Stok Beras Banyak Tapi Gudang Bulog Masih Kosong

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 21 Februari 2018, 22:26 WIB
Stok Beras Banyak Tapi Gudang Bulog Masih Kosong
Net
rmol news logo Hasil panen raya di banyak daerah sudah dirasakan di perkotaan. Pasokan beras yang masuk Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) melonjak tajam dibanding beberapa waktu lalu.

Sayangnya, lonjakan stok berbanding terbalik dengan serapan Badan Urusan Logistik (Bulog) terhadap gabah dan beras petani yang masih pas-pasan.

Direktur Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo menjelaskan, melonjaknya pasokan beras karena banyak daerah sentra sudah memasuki masa panen. Untuk Selasa kemarin (20/2), pasokan beras yang masuk ke Cipinang mencapai 5.482 ton, sehari sebelumnya pasokan mencapai 6.763 ton.

"Pemasukan beras ini murni dari beras lokal, bukan impor. Beras impor dikunci di gudang Bulog," kata Arief kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/2).

Menurutnya, stok beras harian di PIBC pada Senin lalu mencapai 25.004 ton, meningkat tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang sebanyak 21.584 ton. Stok pada Selasa sudah naik lagi mencapai 26.811 ton.

"Seiring dengan berlangsungnya panen raya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Setelah mengisi pasar dan gudang-gudang lokal, kini beras sudah masuk ke PIBC. Diharapkan pemasukan beras ke depan akan tetap tinggi dan stok PIBC meningkat lagi," jelas Arief.

Mendengar hal itu, anggota Komisi IV DPR RI Oo Sutisna mengaku senang sekaligus sedih. Senang karena pasokan beras ke pasar sudah aman, kemudian sedih lantaran stok di Bulog masih belum mencukupi.

Data Bulog, serapan harian pada Selasa lalu hanya 1.658 ton. Provinsi yang gabahnya diserap tertinggi adalah Jatim sebesar 1.486 ton, sedangkan provinsi lain masih sangat kecil. Bahkan, untuk Jateng tidak ada gabah yang diserap Bulog. Senin lalu, gabah petani Jateng yang diserap Bulog hanya 13 ton. Harga gabah saat ini rata-rata Rp 4000 per kilogram.

Oo menyayangkan dikitnya serapan gabah harian Bulog. Padahal Bulog sudah dibantu TNI, Kementerian Pertanian, dan perbankan untuk melakukan serapan habah petani.

"Bulog ini kan maunya beli ketika tercapai sesuai HPP (harga pembelian pemerintah) yaitu Rp 3700 per kilogram). Sekarang, Bulog harus jawab kerja sama serapan gabahnya bagaimana. Aneh. Bulog kan punya gudang besar-besar. Saya baru pulang dari kunjungan ke gudang-gudang Bulog isinya itu beras lama, bukan serapan baru," beber politisi Partai Gerindra itu.

Oo heran dengan kondisi tersebut. Padahal Bulog memiliki kewajiban memperkuat beras cadangan pemerintah melalui serapan gabah petani.

"Ini kan sudah panen. Karena sudah ada kewajiban, kenapa Bulog tidak mau beli. Petani itu kan simpel, yang penting gabahnya ada yang beli," imbuhnya. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA