Untuk menghindari fluktuasi harga yang dapat disebabkan oleh biaya tanam, cuaca, stok transportasi maupun bawang impor, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah sepanjang tahun.
Demikian disampaikan Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP STN) Ahmad Rifai dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (5/10).
Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat salah satu contoh daerah yang dapat menanam bawang merah sepanjang tahun dan tidak tergantung dari musim.
Ahmad Rifai mengatakan, produk tanaman pangan dan hortikultura dari Kabupaten Bima yang telah menembus pasar regional maupun nasional adalah kacang tanah, kedelai dan bawang merah.
Data Dinas Pertanian Bima tahun 2014, Kabupaten Bima sekarang telah menjadi sentra produksi bawang merah di Indonesia dengan tingkat produksi rata-rata setiap tahunnya mencapai 80-100 ribu ton atau berkontribusi sekitar 34,73 persen dari kebutuhan nasional.
NTB sendiri menempati posisi keempat dari 10 besar daerah penghasil bawang merah. Penghasil bawang merah di NTB terutama terdapat di Kabupaten Bima yang terdiri dari 18 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 13 kecamatan di Kabupaten Bima merupakan daerah penghasil bawang merah.
Jelas Ahmad Rifai, potensi lahan yang dapat dipergunakan untuk pengembangan bawang merah di Bima terdiri dari lahan sawah maupun lahan kering seluas 12.644 Ha dengan potensi hasil produksi setiap tahunnya berkisar antara 98.000-130.000 ton per tahun tetapi baru termanfaatkan seluas 5.311 Ha dengan hasil produksi sebesar 63.732 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari potensi yang ada, sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan lagi di masa mendatang.
"Sebagai informasi bahwa penanaman bawang merah di Bima dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa melihat musim kemarau atau musim hujan sehingga hasilnya dapat melimpah, sedangkan di daerah lain jika musim hujan tidak dapat ditanami bawang merah. Ada satu komoditi bawang merah lokal di daerah ini yang dapat ditanam pada waktu musim hujan, yaitu Bowo Varietas Ketamonca dengan luas areal tanam 400 Ha dan ditanam sekitar 20-30 meter dari pinggir laut," paparnya.
Hari ini (Kamis, 5/10), bertempat di Watasan Tolo, Desa Rato, Kecamatan Lambu, Bima, petani bawang merah yang tergabung dalam STN melaksanakan Panen Raya Bawang sekaligus memperingati Hari Tani Nasional yang ke 57.
Acara yang dimulai pukul 10.00 WITA tadi dibuka oleh Bupati Bima dan dihadiri perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Desa PDTT, Pemerintah Provinsi NTB, jajaran SKPD, perwakilan BUMN, dan seluruh masyarakat di Lambu, Bima. Pada kegiatan ini akan dilakukan panen secara massal pada lahan seluas 200 hektar yang telah mencapai masa panen.
"Sebagai penambah informasi, jumlah petani bawang di Bima terdiri dari kurang lebih 60.000 KK dengan kemampuan produksi berkisar 15-18 ton per hektar yang biaya produksinya mencapai Rp 108 juta per hektar. Harga jual yang diperoleh petani berkisar di angka Rp 7000 per kg dengan metode jemput bola oleh para tengkulak di sawah maupun di rumah masing-masing petani," ujar Ahmad Rifai.
Ditambahkannya, menjadi suatu kerentanan tersendiri bagi petani bawang dengan biaya produksi yang tinggi namun tidak diimbangi dengan jaminan harga panen yang stabil dari pemerintah. Sehingga seringkali petani bawang mengalami kehancuran ketika harga terombang-ambing oleh pasar yang tidak jelas.
[rus]
BERITA TERKAIT: