Jajat menyayangkan cara kampanye yang memakai isu SARA, misalnya dengan slogan "Saya Muslim Saya Pilih Ahok". Menurutnya, isu SARA sangat sensitif di tengah budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam.
"Jika hal ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin akan memicu konflik horizontal di masyarakat," sebut dia kepada redaksi, Selasa (15/3).
Jelas Jajat, semua harus belajar dari sejarah bagaimana efek dari isu SARA, yang jelas dapat dengan mudah memicu perpecahan. Maka dari itu, alangkah baiknya cara-cara seperti ini tidak dilakukan.
Ia menambahkan, banyak cara berpolitik yang bisa digunakan tanpa menggunakan unsur SARA. Unsur agama dijadikan kampanye politik merupakan hal yang keliru.
"Semoga hal seperti ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak, jangan sampai hanya karena ingin memenuhi ambisi politik rela mengorbankan cita-cita luhur para pendiri negara," tutup Jajat.
[rus]
BERITA TERKAIT: