Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief dalam diskusi di Wisdom Institute, Jakarta (Minggu, 13/1).
Masyarakat, lanjut Andi, harus bisa mempersiapkan diri dengan pola hidup disiplin untuk mencegah banjir terjadi. Masyarakat, masih lanjutnya, harus bisa mempersiapkan cadangan makanan dan menyiapkan diri untuk pindah ke lokasi yang lebih aman jika banjir datang dengan tiba-tiba.
"Lebih baik disiapkan pola masyarakat agar tahu gejala alam. Dengan mempersiapkan logistik dan mempersiapkan relokasi," kata Andi saat diskusi di Wisdom Institute, Jakarta, Minggu (13/1)
Untuk mengantisipasi adanya bahaya banjir itu, Andi mengajak masyarakat untuk merespon dengan cepat dan mempercayai berita dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mirisnya, sambung Andi, masyarakat saat ini masih merasa acuh dengan prediksi cuaca yang disampaikan oleh BMKG.
"Balik ke BMKG, masyarakat belum bisa percaya sepenuhnya.
People power bisa digunakan untuk menghindari bencana, jadi jangan selalu berharap dengan Jokowi, karena penguasa siapapun yang ada di Jakarta tidak akan bisa atasi banjir tanpa bantuan masyarakat," ujar Andi.
Andi pun membandingkan bagaimana usaha Jokowi dengan usaha Nabi Nuh yang gagal mengajak masyarakat untuk mengungsi saat banjir besar datang.
"Nabi Nuh saja gagal mengajak orang terhindar dari bencana, apalagi Jokowi, jadi ini harus ada kerjasama dari masyarakat juga," ujar Andi
Lebih lanjut Andi pun mengakui pemerintah belum miliki
emergency plan terkait bencana-bencana yang semakin tidak bisa diprediksi belakangan ini.
"Makanya pemerintah juga harus bisa ajak masyarakat lawan bencana," demikian Andi.
[ian]
BACA JUGA: