Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr. Hans Kluge mengatakan, mutasi SARS-CoV-2 pada carpelai atau yang disebut dengan mutasi "Cluster 5" sejauh ini tidak membahayakan bagi pengembangan vaksin.
"Saat ini, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hal itu akan membahayakan pengembangan vaksin. Tetapi perlu diselidiki karena ini adalah kombinasi baru. 'Cluster 5' adalah elemen baru," kata Kluge dalam sebuah konferensi pers pada Sabtu (7/11).
Dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan implikasi mutasi tersebut.
Sebelumnya, pada Kamis (5/11), otoritas kesehatan di Denmark melaporkan 12 kasus Covid-19 pada manusia yang disebabkan oleh strain varian spesifik terkait cerpelai SARS-CoV-2.
Semua kasus itu berada di Jutlandia Utara. Delapan di antaranya memiliki hubungan dengan industri peternakan cerpelai dan empat kasus berasal dari infeksi lokal.
Sejak Juni 2020, sebanyak 214 kasus Covid-19 pada manusia telah diidentifikasi di Denmark dengan varian SARS-CoV-2 yang terkait dengan cerpelai, termasuk 12 kasus dengan varian unik.
Strain varian khusus ini menampilkan kombinasi mutasi yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya.
Tes laboratorium yang dilakukan di Denmark menunjukkan bahwa jenis ini mungkin telah mengurangi respons antibodi SARS-CoV-2.
Tetapi temuan tersebut hanya studi pendahuluan yang membutuhkan serangkaian menyelidikan dan kolaborasi internasional.
Pemerintah Denmark sendiri memutuskan untuk membunuh semua carpelai sebagai bagian dari langkah pencegahan.
BERITA TERKAIT: