"Belakangan saya mendapat laporan bahwa ada penderita DBD di Tangsel agak sedikit naik angkanya. Didapat informasi, memang betul bulan Januari itu ada 29 penderita DBD. Nah bulan Februari naik jadi 41 orang. Yang 29 tadi sembuh, karena kan hanya dirawat 7 hari. Kemudian yang sampai hari ini di bulan Maret ada 17 penderita (DBD)," ujar Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie, saat meninjau RSU Tangsel, Selasa (10/3).
Lanjutnya, dari total 87 pasien ada 2 pasien yang meninggal. Namun, Benyamin menjelaskan jika dua pasien yang meninggal bukan mutlak karena DBD.
"Ada memang pada bulan apa itu meninggal dua orang, itu bukan karena DBD-nya, tapi penyakit penyertanya. Yang meninggal satu anak-anak dan satu dewasa, semuanya dari Tangsel. Memang mereka DBD, tapi ada penyakit lain yang menyertai," ungkapnya.
Dari 17 pasien yang tercatat terkena DBD, empat pasien sudah sembuh total dan diperbolehkan pulang.
"Jadi, sekarang ini tinggal 13 orang dari 17 yang sakit DBD, 4 sudah pulang. Dan ini beberapa juga nanti bisa pulang," imbuh Benyamin, dikutip
Kantor Berita RMOLBanten.Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Deden Deni membenarkan jika ada dua warga Tangsel yang meninggal karena DBD. Deden menyebut curah hujan tinggi jadi penyebab angka penderita DBD di Tangsel meningkat.
"Yang jelas itu ada dua (meninggal) yang tadi disampaikan Pak Wakil tadi. Satu dewasa, satu anak-anak. Yang penting penanganan ke depan, pencegahannya. Memang lagi tinggi curah hujan awal bulan Maret ini," tutup Deden.
BERITA TERKAIT: