Pasalnya, rumah sakit di Indonesia belum memiliki fasilitas ruang isolasi yang memadai kecuali yang dimiliki Kementerian Kesehatan.
Demikian disampaikan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PRSSI), Hermawan Saputra kepada wartawan di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2).
"Kami harus akui, rumah sakit di Indonesia ini belum betul-betul
ready untuk ruang isolasi, spesifik case, untuk kasus-kasus yang betul-betul mematikan seperti ini," katanya.
"Harus kita akui baru rumah sakit di Pemerintah Pusat yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan," dia menegaskan.
Menurut dia, ada sejumlah daerah rawan yang mesti diwaspadai antara lain; Medan, Jakarta, Batam, Bali, hingga Manado. Apalagi ada turis dari Bali yang dinyatakan suspect confirm, positif.
"Nah andai saja, kejadian di Bali. Bali ini tidak hanya kelas intenasional, regional, tapi nasional. Artinya apa? Kesiapan infrastruktur kesehatan kita ini apakah ia bisa seperti China yang membangun rumah sakit isolasi dengan semua kelengkapannya dalam 10 hari?," jelasnya.
Terlebih, kata Hermawan Saputra, alat thermal scanner di bandara-bandara juga belum sepenuhnya dapat mendeteksi virus mematikan itu.
"Thermal scanner itu alat pengukur suhu tubuh, sebenarnya itu tidak cukup kuat untuk mendeteksi Corona. Kenapa? Karena masa inkubasinya 14 hari," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: