"Penemuan aedes aurensius adalah salah satu contoh hasil riset dan memang belum banyak studi yang dilakukan terkait nyamuk jenis ini," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Dr HM Subuh, MPPM di kantornya, Jakarta, Selasa (15/12).
Saat ini, tambah dia, Kemenkes juga tengah melakukan riset terkait hewan penyebar penyakit di Indonesia.
"Namanya bagus sekali ya, dia itu sejenis aedes. Kalau kita bicara aedes biasanya itu chikungunya dan demam berdarah tetapi ini dia (aurensius) belum terbukti membawa apa-apa," jelas Subuh.
"Saya kira perlu terus kita tindak lanjuti bagaimana kita mengetahui vektor baru ini membawa apa. Ini sama sekali baru. Baru ditemukan di papua," imbuhnya.
Selain aurensius, ada lagi temuan terkait nyamuk pembawa penyakit yaitu Anopheles barbirostris yang positif mengandung parasit malaria. Nyamuk jenis ini diketahui sudah ada sebelumnya di daerah Sumatra Selatan, namun baru pertama kalinya diketahui bisa menyebarkan malaria.
Subuh mengatakan, temuan-temuan tersebut adalah hal penting karena bisa menjadi dasar untuk pemetaan dan tindakan-tindakan apa bila terjadi suatu kasus penyebaran penyakit.
"Kita bisa mengetahui besaran masalah terutama vektor-vektor penyebar bila terjadi suatu kasus. Kita bisa lebih mudah mengendalikan vektor tersebut," demikian Subuh.
[sam]