Sakit gigi berkepanjangan dan berulang tanpa ada kerusakan di gusi dan gigi perlu diwaspadai. Bisa jadi rasa nyeri ini akibat trigeminal neuralgia (TN). Penyakit langka di dunia ini sulit dideteksi apa penyebabnya. Penyakit ini tak hanya menyerang usia di atas 40 tahun, usia produktif 20-22 tahun juga bisa terkena.
Trigeminal neuralgia adalah penyakit yang disebabkan oleh sentuhan atau penekanan pemÂbuluh darah pada saraf nomor 5, yaitu saraf nervus kranialis terÂbesar yang mengatur perasa waÂjah yang letaknya di sekitar baÂtang otak. Gejalanya ditandai deÂngan suatu nyeri yang muncul mendadak, berat, seperti seÂngaÂtÂan listrik atau nyeri yang meÂnuÂsuk-nusuk, biasanya pada satu sisi rahang atau pipi.
Ahli bedah saraf dari Rumah Sakit Bedah Surabaya Sofyanto mengatakan, penyakit ini sering dikatakan penyakit misÂterius dan langka. Pasalnya, saat penÂderita melakukan pemeÂriÂkÂsaan ke dokÂter, sering sekali nyeri paÂda TN tidak terdiagnosis. PenÂderita haÂnya tahu nyeri biasa pada bagian gusi dan gigi saja.
“Ada juga pasien yang sudah berobat kemana-mana bahkan hingga ke luar negeri, juga tidak tahu apa penyakitnya. Yang lebih ekstrim lagi, penderita justru meÂngira dirinya diguna-guna atau santet, sehingga berobat ke peÂngobatan alternatif bahkan ke dukun,†jelas Sofyanto dalam disÂkusi kesehatan Brain Spain CoÂmmunity di Jakarta, Sabtu (8/9).
Di Indonesia, jumlah penderiÂta TN diperkirakan mencapai 30.000 orang yang terdeteksi. Menurut Sofyanto, nyeri yang dirasakan pada penderita TN serangannya sangat mendadak dan sakitnya tak terhingga. RaÂsanya baÂgaiÂkan ditusuk 1.000 jarum, terÂsamÂbar petir atau obeng yang diÂmaÂsukÂkan dan diÂkeluarkan dari hiÂdung yang diÂakibatkan adanya maÂsalah di saraf nomor 5 (perasa wajah).
Dia mengatakan, penyakit langÂka ini sulit disembuhkan deÂngan cepat karena di dalam otak terdapat 12 pasang saraf, jika terÂganggu akan timbul masalah. Beberapa keluhan yang dialami, adalah gangguan pada saraf 5, 7, dan 9. Jika saraf 5 terganggu, muncul nyeri pada hidung, wajah, dan gigi. Jika saraf 7 terganggu, wajah kejang sebelah (HemiÂfaÂcial Spasm/HFS). Pada gangÂguan ini tidak timbul nyeri, tapi sebelah wajah, seperti tertarik ke samÂping. Jika saraf 9 terusik, penÂderita akan kesakitan saat meÂnelan.
Dia menegaskan, peÂnyakit ini timbul bukan karena gigi, meÂlainÂkan stres, kelelahan ataupun keÂcemasan pada penderita. GangÂÂguan psikis berupa cemas, teÂgang dan sebagainya hanya memÂÂÂperÂparah reaksi, bukan seÂbagai peÂmiÂcu penyakit tersebut.
“Justru semakin cemas, denyut pembuluh darah penderita TN akan semakin menekan saraf 5 lebih kuat sehingga, otomatis reaksi pada wajah penderita akan semakin parah,†katanya
Adapun ciri umum dari penÂderita TN, yakni gusi, gigi dan sebagian wajah mengalami sakit yang luar biasa dan penderita seÂlalu menduga, gigi sebagai peÂmicu utamanya. Sehingga, baÂÂnyak penderita yang pasrah keÂtika dokter yang tak paham meÂngÂinstruksikan giginya unÂtuk diÂcabut. Bahkan, ada pasien tak hanya satu dua, justru keÂseluÂruÂhan giginya ikut dicabut sampai ompong. Namun, nyeri yang diÂderita tak juga hilang.
Dikatakan, penyakit langka ini biasanya diderita oleh orang yang usianya di atas 40 tahun, karena di usia tersebut otak maÂnuÂsia mulai mengecil. SeÂcara anaÂtomi akan menyebabkan peruÂbahan posisi organ-organ yang ada di sekitarnya termasuk pemÂbuluh darah yang ada di saraf baÂtang otak tersebut.
“Kebanyakan penyakit ini menyerang usia tua, dan sekarang bisa menyerang usia muda karena pernah ada pasien yang umurnya 20-22 tahun terkena TN. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pembuluh darah,†ujarnya.
Ketua Brain Spine Community (BSC) DR Lilih Dwi Priyanto menÂjelaskan, trigeÂmiÂnal neuÂralÂgia adalah penyakit yang diseÂbabkan oleh sentuhan atau peneÂkanan pemÂbuluh darah pada saraf 5, yaitu saraf nervus kranialis terÂbeÂsar yang mengatur perasa waÂjah dan terletak di sekitar batang otak.
“Gejalanya ditandai dengan suatu nyeri yang muncul menÂdadak, berat, seperti sengatan listÂrik, atau nyeri yang menusuk-nuÂsuk, biasanya pada satu sisi rahang atau pipi,†jelas Lilih.
Prevalensi penyakit ini diperÂkirakan sekitar 107.5 pada lelaki, dan 200.2 pada perempuan per satu juta populasi. Penyakit ini lebih sering terjadi pada sisi kaÂnan wajah dibandingkan dengan sisi kiri (rasio 3:2), dan meruÂpakan penyakit pada kelompok usia dewasa. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: