Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, pada 30-31 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya kepastian rantai pasok global serta penguatan sistem perdagangan multilateral di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dalam sesi pleno yang membahas rantai pasok, Arrmanatha mengusulkan penguatan kesiapsiagaan menghadapi krisis dan kondisi darurat, dukungan pembiayaan jangka panjang yang terjangkau, serta pembangunan kemitraan teknologi.
Langkah tersebut dinilai penting agar negara berkembang memiliki kapasitas lebih besar dalam ekosistem produksi global.
“Rantai pasok harus memiliki lebih banyak pusat produksi, terutama di negara-negara berkembang”, disampaikan Menlu.
Selain persoalan rantai pasok, Arrmanatha juga menyoroti keterkaitan antara ketahanan nasional, kawasan, dan global. Menurutnya, ketahanan nasional merupakan fondasi bagi terciptanya stabilitas yang lebih luas melalui kerja sama multilateral yang efektif.
“Ketahanan nasional memperkuat ketahanan kawasan, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan global,” menjadi pesan utama Indonesia dalam pertemuan tersebut.
Dalam pembahasan geopolitik, Menlu mengingatkan dampak konflik di Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah terhadap jalur perdagangan, pasokan energi, pupuk, hingga pangan dunia. Indonesia turut menegaskan pentingnya de-eskalasi konflik dan penghormatan terhadap UNCLOS 1982 sebagai landasan hukum internasional dalam menjaga kebebasan navigasi.
“Pangan tidak boleh dijadikan senjata,” tegas Menlu.
Sementara dalam sesi energi, Arrmanatha menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan bagian dari keamanan nasional. Indonesia terus memperkuat kemandirian energi melalui penerapan B50 dan program pembangunan 100 gigawatt (GW) tenaga surya.
“Krisis harus mempercepat transisi energi, bukan justru membalikkannya,” tegasnya.
Dia juga mendorong transisi energi yang adil dan terjangkau melalui perluasan akses teknologi energi bersih serta pembiayaan bagi negara berkembang.
Pertemuan yang merupakan bagian dari Presidensi G20 Amerika Serikat 2026 itu dihadiri perwakilan 18 negara anggota G20, Uni Eropa, Uni Afrika, serta Polandia sebagai negara undangan.
Di sela-sela agenda, Arrmanatha juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral untuk memperkuat hubungan dan menjajaki peluang kerja sama. Rangkaian Presidensi G20 Amerika Serikat akan mencapai puncaknya melalui KTT G20 di Miami pada 14-15 Desember 2026.
BERITA TERKAIT: