Berbicara dalam wawancara telepon singkat dengan Barak Ravid dari
Channel 12 dan
Axios pada Minggu, 9 Agustus 2026, Trump mengatakan AS masih berkomunikasi dengan Iran, tetapi dilakukan secara terbatas dan diam-diam.
“Kami melakukannya secara diam-diam. Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka,” kata Trump, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Trump mengatakan AS kini hanya mengamati kondisi ekonomi Iran yang semakin tertekan.
“Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang. Ini akan berhasil. Selalu akan berhasil. Ini seperti permainan catur,” ujarnya.
Trump menilai kondisi keuangan Iran sudah sangat buruk, bahkan disebut kesulitan membayar pasukannya. Menurutnya, tekanan tersebut dapat membuat Iran akhirnya bersedia berkompromi.
Sikap Trump muncul ketika Iran menetapkan syarat baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting yang sebelumnya membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Harapan tercapainya kesepakatan antara Iran, AS, dan Oman untuk membuka kembali selat tersebut pun kembali meredup. Iran juga membantah telah melakukan pembicaraan langsung dengan AS.
Trump sebelumnya sempat mengancam serangan besar terhadap Iran. Namun, ancaman itu kemudian mereda setelah ia mengatakan ada kemajuan dalam pembicaraan.
Sementara itu, laporan mengenai perbedaan sikap di dalam pemerintahan Iran juga muncul. Presiden Masoud Pezeshkian disebut lebih mendukung kesepakatan untuk mencegah ekonomi Iran semakin terpuruk, sementara kelompok di dalam IRGC disebut menentang konsesi kepada AS.
Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga mengklaim bahwa ia baru-baru ini bertemu dengan Pezeshkian untuk membahas kondisi negara, termasuk situasi militer dan masa depan Iran.
BERITA TERKAIT: