Di tengah upaya diplomatik dan desakan komunitas internasional, termasuk dari Amerika Serikat, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menegaskan tidak memiliki niat untuk menarik pasukan dari kawasan yang mereka sebut sebagai zona keamanan.
Menurutnya, kepentingan keamanan Israel berada di atas segala tekanan politik yang datang dari luar negeri.
"Israel tidak akan meninggalkan zona keamanannya di Lebanon, bahkan jika Amerika Serikat menuntut penarikan pasukan," kata Katz, dikutip dari laporan harian
Yedioth Ahronoth, Kamis, 25 Juni 2026.
Selain Lebanon, Katz menegaskan Israel akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di wilayah Suriah yang diduduki.
"Kami tidak akan meninggalkan zona keamanan di Suriah dan Lebanon; ini adalah doktrin keamanan," tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika para pejabat tinggi Israel terus mempertahankan kebijakan pendudukan di Lebanon selatan, meskipun terdapat kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.
Sebelumnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Katz dan Kepala Staf Militer Eyal Zamir juga telah menyatakan komitmen untuk mempertahankan kendali atas wilayah yang mereka klaim sebagai zona keamanan.
Israel saat ini masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, baik yang telah dikuasai selama puluhan tahun maupun area yang direbut dalam konflik 2023-2024.
Dalam operasi militernya, pasukan Israel bahkan dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Data resmi pemerintah Lebanon mencatat serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan 4.192 orang, melukai 12.171 lainnya, serta memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: