Iran Kantongi Pendapatan Perdana dari Tarif Kapal di Selat Hormuz

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Jumat, 24 April 2026, 10:47 WIB
Iran Kantongi Pendapatan Perdana dari Tarif Kapal di Selat Hormuz
Selat Hormuz (Foto: NBC News)
rmol news logo Iran mengklaim mulai menerima pendapatan perdana dari pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. 

Wakil Ketua Parlemen Iran Hamidreza Haji Babaei mengatakan pemasukan awal dari biaya transit itu telah masuk ke rekening Bank Sentral Iran. 

“Pendapatan pertama dari biaya transit di Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Tasnim News Agency, Jumat, 24 April 2026.

Pernyataan itu diperkuat anggota parlemen Alireza Salimi yang menyebut Iran memang telah mulai memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. 

Menurut laporan Tasnim, besaran pungutan berbeda-beda tergantung jenis dan volume muatan serta tingkat risiko yang ditimbulkan tiap kapal, meski otoritas Iran belum merinci jumlah kapal yang telah membayar.

Di tengah spekulasi pembayaran dilakukan menggunakan aset digital, Bank Sentral Iran kemudian membantah kabar itu dan menegaskan pendapatan dari kapal yang melintas diterima dalam bentuk cash currency.

Otoritas moneter Iran juga menegaskan pungutan atas kapal bervariasi tergantung pada jenis dan volume kargo serta tingkat risikonya.

Langkah ini mempertegas manuver Iran untuk memperkuat cengkeramannya atas Selat Hormuz, setelah sebelumnya muncul laporan kapal-kapal diwajibkan mengatur pembayaran tarif di muka dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk opsi pembayaran menggunakan yuan China. 

Wacana legislasi soal pungutan transit sendiri sudah mencuat sejak Maret lalu.

Kebijakan itu muncul di tengah terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz sejak perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari lalu. 

Konflik tersebut mengguncang pasar energi global dan memunculkan kekhawatiran soal dampak ekonomi berkepanjangan, meski Washington dan Teheran kini berada dalam masa gencatan senjata sementara.

Jika pungutan ini terus diberlakukan, Iran bukan hanya memperoleh sumber pemasukan baru di tengah tekanan perang, tetapi juga memperbesar leverage geopolitiknya atas jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA