Pernyataan itu disampaikan Pistorius saat konferensi pers bersama Menteri Pertahanan Australia Richard Marles di Canberra, Kamis, 26 Maret 2026 waktu setempat.
“Yang paling mengkhawatirkan dari perang ini adalah tidak ada konsultasi, strategi maupun tujuan jelas. Yang terburuk, tidak ada strategi keluar,” ujar Pistorius dikutip dari
TRT World.
Menurutnya, konflik tersebut sudah menimbulkan dampak besar bagi perekonomian global meski baru berlangsung lebih dari dua pekan.
“Perang ini merupakan bencana bagi ekonomi dunia. Dampaknya sudah terlihat sejak dua minggu terakhir. Kami tidak diajak berkonsultasi sebelumnya. Ini bukan perang kami, dan karena itu kami tidak ingin terseret ke dalamnya,” tegasnya.
Pistorius juga menekankan pentingnya penyelesaian diplomatik guna menghentikan konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, instabilitas di kawasan tersebut dapat berdampak luas bagi dunia internasional.
“Karena itu kami siap membantu mengamankan perdamaian. Jika tercapai gencatan senjata, kami siap membahas misi apa pun untuk menjaga perdamaian, khususnya untuk memastikan lalu lintas maritim tetap bebas di Selat Hormuz,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menilai saat ini sudah waktunya upaya diplomasi ditingkatkan untuk mengakhiri konflik.
Dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Tunisia Mohamed Ali Nafti di Berlin, Wadephul menantikan perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran.
“Kita harus menunggu hasil pembicaraan Iran-AS di Pakistan. Kami memang tidak terlibat dalam pembicaraan itu, tetapi proses tersebut jelas sedang berlangsung dan tentu kami sambut baik,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: