Laporan
The Wall Street Journal menyebut, dua nama yang dihapus dari daftar tersebut adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Keduanya dikeluarkan dari daftar target selama empat hingga lima hari sebagai bagian dari langkah Presiden AS Donald Trump untuk membuka peluang dialog.
"Ketua parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dihapus dari daftar target hingga empat atau lima hari, seiring dengan dibukanya pintu bagi negosiasi oleh Presiden AS Donald Trump," ungkap laporan tersebut, seperti dikutip Kamis, 26 Maret 2026.
Namun, Iran menolak proposal gencatan senjata dari Washington. Teheran menilai tawaran tersebut “berlebihan” dan menegaskan perang hanya akan dihentikan sesuai keputusan mereka sendiri serta setelah syarat tertentu terpenuhi.
Upaya mediasi terus didorong oleh sejumlah negara seperti Turki, Pakistan, dan Mesir. Meski demikian, para pejabat menilai peluang keberhasilan perundingan masih kecil karena jurang perbedaan tuntutan kedua pihak yang dinilai terlalu lebar.
Di sisi lain, tekanan militer tetap meningkat. Gedung Putih memperingatkan bahwa waktu bagi Iran untuk berunding semakin menipis.
Jika Teheran menolak, AS mengancam akan menggempur Iran dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
BERITA TERKAIT: