Dalam unggahan di media sosial, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan fasilitas militer tersebut dipakai untuk operasi terbatas guna melindungi kawasan dari serangan Iran.
"Amerika Serikat telah mulai menggunakan pangkalan militer Inggris untuk mendukung serangan udaranya terhadap Iran," ungkap laporan tersebut, seperti dikutip dari
BBC, Minggu, 8 Maret 2026.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebelumnya sempat membuat geram Presiden AS Donald Trump karena menolak terlibat langsung dala aksi pengeboman gabungan yang diluncurkan Israel dan Washington terhadap Iran sejak 28 Februari.
Operasi militer itu bertujuan melumpuhkan kemampuan nuklir dan rudal Iran serta membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran.
Meski awalnya menolak, Starmer akhirnya menyetujui permintaan Washington untuk menggunakan dua pangkalan militer Inggris, yakni RAF Fairford dan pangkalan gabungan Inggris-AS di Diego Garcia di Samudra Hindia, untuk tujuan yang disebut sebagai operasi defensif terbatas.
Seorang fotografer AFP bahkan melihat pesawat pengebom B-1 Lancer milik Angkatan Udara AS mendarat di Fairford pada Sabtu.
Trump sendiri secara terbuka mengejek sikap Starmer melalui media sosialnya. Ia bahkan membandingkan pemimpin Inggris itu dengan pemimpin Inggris masa Perang Dunia II.
“Ini bukan Winston Churchill yang sedang kita hadapi. Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kita tidak membutuhkan mereka lagi. Tapi kita akan mengingatnya. Kita tidak membutuhkan orang-orang yang bergabung dalam perang setelah kita menang," kata Trump.
Di tengah polemik tersebut, Inggris dikabarkan mempertimbangkan pengerahan kapal induk HMS Prince of Wales ke kawasan Mediterania.
Kapal induk Inggris lainnya, HMS Queen Elizabeth, saat ini masih berada di Skotlandia untuk perbaikan.
BERITA TERKAIT: