Mendagri Portugal Mundur Usai Dikritik Gagal Tangani Bencana Banjir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Kamis, 12 Februari 2026, 15:18 WIB
Mendagri Portugal Mundur Usai Dikritik Gagal Tangani Bencana Banjir
Mendagri Portugal Maria Lucia Amaral (Foto: Radio Nova)
rmol news logo Menteri Dalam Negeri Portugal, Maria Lucia Amaral, resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah menuai kritik luas terkait penanganan pemerintah terhadap bencana banjir besar yang melanda negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir. 

Pengumuman pengunduran diri disampaikan oleh pihak kepresidenan Portugal. Dikatakan bahwa Amaral memutuskan mundur dari jabatannya karena merasa tidak lagi memiliki dukungan yang memadai untuk menjalankan tugasnya secara efektif. 

"Maria Lucia Amaral merasa bahwa dia tidak memiliki kondisi pribadi dan politik yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya," demikian pernyataan resmi yang dirilis otoritas kepresidenan Portugal, seperti dikutip dari Euro News, Kamis, 12 Februari 2026.

Untuk sementara waktu, posisi Mendagri akan diambil alih langsung oleh Perdana Menteri Portugal dari kubu kanan-tengah, Luís Montenegro. 

Pemerintahan Montenegro sendiri tengah berada di bawah tekanan publik menyusul respons pemerintah terhadap badai hebat dan angin kencang yang berlangsung selama dua pekan terakhir.

Rangkaian cuaca ekstrem dan banjir yang melanda Portugal dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai 4 miliar euro. 

Oposisi menilai mundurnya Amaral menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam menangani krisis bencana yang meluas.

"Pengunduran diri menteri dalam negeri adalah bukti bahwa pemerintah telah gagal dalam menanggapi keadaan darurat ini," kata Sekretaris Jenderal Partai Sosialis oposisi, Jose Luis Carneiro. 

Fenomena cuaca ekstrem di Semenanjung Iberia, yang mencakup Portugal dan Spanyol, dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan peningkatan intensitas dan durasi. 

Para ilmuwan mengaitkan pola hujan lebat berkepanjangan serta gelombang panas ekstrem dengan dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Badan Antariksa Eropa (ESA) mencatat tiga badai musim dingin, yakni Kristin, Leonardo, dan Marta, menghantam Portugal, Spanyol, serta Afrika Utara pada awal 2026 dan memicu banjir luas. 

Ribuan warga terpaksa mengungsi, termasuk sekitar 3.000 orang di Coimbra akibat ancaman jebolnya tanggul Sungai Mondego, sementara Portugal masih menetapkan status darurat hingga pertengahan Februari akibat curah hujan yang belum mereda.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA