Pidato Deng Xiaoping Tahun 1978 Jadi Titik Balik Kebangkitan Ekonomi Tiongkok

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Minggu, 08 Februari 2026, 17:26 WIB
Pidato Deng Xiaoping Tahun 1978 Jadi Titik Balik Kebangkitan Ekonomi Tiongkok
Deng Xiaoping (Foto: Macro Journal)
rmol news logo Kebangkitan ekonomi Tiongkok tidak terlepas dari pidato bersejarah pemimpin reformasi Tiongkok, Deng Xiaoping, yang disampaikan pada 13 Desember 1978. 

Dalam pidato berjudul Membebaskan Pikiran, Mencari Kebenaran dari Fakta dan Bersatu Sebagai Satu Kesatuan Dalam Melihat ke Masa Depan, Deng menegaskan arah baru pembangunan Tiongkok melalui program Empat Modernisasi yang kemudian menjadi fondasi transformasi ekonomi negara tersebut.

Program Empat Modernisasi tersebut meliputi penguatan sektor pertanian, industri, pertahanan nasional, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Deng menegaskan bahwa modernisasi tersebut merupakan revolusi besar yang memerlukan pembelajaran berkelanjutan. 

"Empat modernisasi tersebut mewakili sebuah revolusi besar dan mendalam di mana kita bergerak maju dengan menyelesaikan satu kontradiksi baru demi kontradiksi baru," jelasnya, seperti dikutip pada Minggu, 8 Februari 2026. 

Dalam pidatonya, Deng menekankan bahwa perubahan besar harus dimulai dengan reformasi pola pikir. 

“Ketika datang untuk membebaskan pikiran kita, menggunakan kepala kita, mencari kebenaran dari fakta dan bersatu sebagai satu dalam melihat ke masa depan, tugas utama adalah untuk membebaskan pikiran kita," tegasnya. 

Menurut Deng, pembebasan cara berpikir menjadi syarat utama untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan kondisi nyata negara.

Deng juga menilai bahwa modernisasi tidak akan berjalan tanpa keberanian melakukan perubahan terhadap sistem lama yang menghambat produktivitas. 

"Dorongan kita untuk empat modernisasi tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali pemikiran kaku dipecah dan pikiran kader dan massa benar-benar diemansipasi," tegasnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan tekadnya untuk mendorong reformasi ekonomi yang lebih terbuka dan adaptif.

Selain reformasi pemikiran, Deng menekankan pentingnya demokrasi sebagai sarana mendorong kreativitas dan partisipasi rakyat dalam pembangunan. 

“Salah satu kondisi penting untuk membuat orang membebaskan pikiran mereka dan menggunakan kepala mereka adalah praktik asli dari sistem proletar sentralisme demokratis," kata dia. 

Deng meyakini bahwa keterbukaan dalam pengambilan keputusan dapat mempercepat inovasi dan efisiensi pembangunan nasional.

Dalam aspek ekonomi, Deng mendorong pemberian kewenangan lebih besar kepada daerah, perusahaan, dan unit produksi guna meningkatkan produktivitas. Ia bahkan menyatakan bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan insentif nyata bagi masyarakat. 

“Revolusi terjadi atas dasar kebutuhan akan keuntungan materi. Ini akan menjadi idealisme untuk menekankan semangat pengorbanan dengan mengabaikan manfaat materi,” ujarnya.

Pidato tersebut kemudian menjadi tonggak reformasi ekonomi Tiongkok yang membuka jalan bagi pertumbuhan pesat negara itu selama beberapa dekade berikutnya. 

Melalui kebijakan pragmatis dan berorientasi hasil, Empat Modernisasi Deng Xiaoping dinilai sebagai fondasi utama yang mengantarkan Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia saat ini.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA