Ia menyebut adanya keretakan internal yang tumbuh perlahan namun mematikan, berawal dari ketidakmampuan kepala negara mengonsolidasikan masyarakat dan memudarnya fungsi kepemimpinan sebagai kompas moral negara.
“Terjadi pelapukan diam-diam yang mematikan. Karena pemimpin tak dapat mengarahkan masyarakat, dan menjadi panduan moral menjadi kedaulatan negara” ujar Teuku Rezasyah kepada RMOL, Minggu, 4 Januari 2026.
Menurutnya, penangkapan seorang presiden dengan pengamanan berlapis dan dukungan aparatus negara yang lengkap sulit dipahami jika tidak ada pembiaran dari dalam.
Ia menilai mata dan telinga aparatur negara telah dibutakan dan ditumpulkan, sementara kalangan terdekat pemerintah justru mendiamkan proses tersebut dan menikmati kejatuhan yang terjadi.
“Sulit dimengerti jika seorang presiden bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti. Artinya, aparatur negara tidak lagi berfungsi. Dalam hal ini, elite di sekitar pemerintah memilih diam dan membiarkan proses itu berjalan,” tegasnya.
Reza menambahkan, ketiadaan perlawanan militer nasional menjadi bukti paling nyata runtuhnya loyalitas institusi negara. Tidak ada mobilisasi besar untuk mempertahankan Maduro, meskipun pengamanan presiden dan lembaga intelijen masih ada secara struktural.
“Tidak ada perlawanan militer nasional. Tidak ada mobilisasi besar. Paspampres ada, tapi diam. Intelijen ada, tapi kelamaan membaca situasi sehingga lamban bergerak,” ungkapnya.
Ia juga menilai institusi negara di Venezuela telah kehilangan kapasitas untuk mempertahankan loyalitas dan kepatuhan.
Dari sisi militer, perlindungan terhadap kepala negara yang semula dianggap kewajiban justru berubah menjadi risiko bagi masa depan mereka sendiri.
“Mungkin Maduro terlalu percaya diri, sehingga lupa membaca loyalitas elite di sekitarnya,” kata Reza.
Menurutnya, elite yang terbelah, loyalitas yang melemah, serta hilangnya keyakinan terhadap masa depan rezim menjadi faktor penentu keberhasilan intervensi.
“Saat serangan atas Venezuela terjadi, tidak ada perintah tegas untuk bertahan, tidak ada figur kharismatis yang berani mengambil risiko, dan tidak ada birokrasi yang menggalang solidaritas masyarakat,” paparnya.
BERITA TERKAIT: