Menurut kantor berita
Fars pada Sabtu (31/12), pesawat asing yang belum diketahui asalnya itu, terbang melandai dan mendekati lokasi pelatihan Iran di Selat Hormuz.
"Selama latihan, pesawat intelijen berawak P-8 milik pasukan ekstra-regional, mencoba mengurangi ketinggian untuk mengumpulkan informasi yang lebih akurat dari area latihan," ungkap laporan tersebut seperti dimuat
Arab News.
Pesawat mata-mata itu dikabarkan telah meninggalkan area latihan setelah pertahanan udara Iran meluncurkan drone Karrar.
Meskipun masih belum ada klaim identitas pengirim pesawat mata-mata tersebut, tetapi pasukan Iran telah berulang kali melakukan konfrontasi serupa dengan pasukan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Hingga kini, Departemen Pertahanan dan Luar Negeri AS belum memberikan konfirmasi apapun mengenai laporan tersebut.
Menurut televisi pemerintah, militer Iran telah menguji drone serangan baru bernama Ababil-5 untuk pertama kalinya di daerah pesisir Teluk Oman dan dekat Selat Hormuz yang strategis pada Sabtu (31/12).
Ababil-5 berhasil mencapai sasarannya dengan bom setelah menempuh jarak 400 kilometer.
Iran secara teratur mengadakan latihan semacam itu setiap tahunnya untuk meningkatkan kekuatan pertahanan dan menguji senjatanya.
Sementara itu, drone militer telah menjadi titik pertikaian antara Iran dan sekutu AS, karena Teheran diduga kuat memasok Moskow dengan drone untuk mendukung perangnya di Ukraina.
Pada bulan November, Iran mengakui telah memasok Rusia dengan drone, tetapi pasokan itu dikirim sebelum perang Moskow di Ukraina.
BERITA TERKAIT: