Protes anti-pemerintah yang dimulai sejak 17 September lalu, berujung pada kerusuhan setelah bentrokan warga dengan petugas keamanan Iran yang menyebabkan ratusan kematian dan korban luka.
"Setidaknya ada 185 orang, termasuk 19 anak-anak, tewas dalam protes nasional di seluruh Iran. Jumlah pembunuhan tertinggi terjadi di provinsi Sistan dan Baluchistan," kata kelompok HAM Iran yang berbasis di Norwegia seperti dimuat
Reuters.
Otoritas Iran mengklaim bahwa protes dalam jumlah besar tersebut merupakan rencana yang disusun oleh musuh Teheran, termasuk Amerika Serikat. Pemerintah juga menuduh Barat mempersenjatai para pengunjuk rasa hingga menewaskan 20 anggota pasukan keamanan.
Sebuah video yang dibagikan oleh akun Twitter, Mamlekate, menunjukkan pasukan keamanan mengejar puluhan gadis sekolah di kota Bandar Abbas. Unggahan tersebut juga mengatakan toko-toko telah ditutup di beberapa kota setelah para aktivis menyerukan pemogokan massal.
Kematian Mahsa Amini di dalam penjara telah menimbulkan banyak kecurigaan. Gadis berusia 22 tahun itu ditangkap oleh kepolisian moral pada 13 September. Selama dalam tahanan, kondisinya melemah hingga harus di rujuk ke rumah sakit. Namun tiga hari kemudian dia meninggal dunia.
Pihak berwenang mengklaim Amini meninggal karena penyakit yang diidap sebelumnya. Tetapi ayah Amini tetap meminta pertanggungjawaban karena dokter yang menanganinya percaya korban telah memperoleh kekerasan di dalam tahanan.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: