Menurut data dari Refinitiv Eikon, kapal tersebut sedang dalam perjalanan dan diperkirakan tiba pada 11 Agustus.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri India, Arindam Bagchi pada Kamis (28/7) menegaskan pihaknya akan memantau perkembangan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan keamanan dan ekonomi New Delhi.
"Pemerintah dengan hati-hati memantau setiap perkembangan yang berkaitan dengan keamanan dan kepentingan ekonomi India, dan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi mereka," kata Bagchi, seperti dikutip
Reuters.
"Saya pikir itu harus menjadi pesan yang jelas," tambahnya.
Seorang pejabat pemerintah Sri Lanka mengungkap. diplomat India di Kolombo telah mengajukan protes lisan kepada kementerian luar negeri Sri Lanka pada Senin (24/7) atas rencana China.
Sebuah perusahaan konsultan Sri Lanka, Belt & Road Initiative Sri Lanka, menyebut Yuan Wang 5 akan berada di Hambantota selama seminggu.
"Kapal itu akan melakukan pelacakan ruang angkasa, kontrol satelit, dan pelacakan penelitian di bagian barat laut wilayah Samudra Hindia hingga Agustus dan September," kata perusahaan tersebut, tanpa mengutip sumber.
Sri Lanka secara resmi menyerahkan kegiatan komersial di Pelabuhan Hambantota yang terletak di selatan kepada sebuah perusahaan China pada tahun 2017 dengan sewa 99 tahun setelah berjuang untuk membayar utangnya. Pelabuhan ini dekat dengan jalur pelayaran utama dari Asia ke Eropa.
Para pejabat AS dan India khawatir bahwa pelabuhan senilai 1,5 miliar dolar AS itu dapat menjadi pangkalan militer China.
BERITA TERKAIT: