Dalam sebuah pernyataan yang dikutip
Reuters pada Rabu (27/4), jurubicara PBB, Stephane Dujarric mengatakan pertemuan keduanya di Moskow membahas situasi di Azovstal, di mana para pejuang Ukraina bersembunyi setelah Rusia mengaku telah merebut Mariupol.
"Diskusi lanjutan akan dilakukan dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan dan Kementerian Pertahanan Rusia," kata Dujarric.
Setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Guterres mengatakan telah mengusulkan pembentukan "Kelompok Kemanusiaan" dari pejabat Rusia, Ukraina, dan PBB untuk membuka koridor kemanusiaan yang aman.
Pada Selasa (25/4), Putin juga membahas situasi di Mariupol dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia mengatakan tidak ada operasi militer yang berlangsung di Mariupol, dan menyebut Ukraina harus bertanggung jawab atas mereka yang masih bersembunyi di pabrik Azovstal.
Rusia memulai apa yang mereka sebut sebagai operasi militer khusus ke Ukraina pada 24 Februari. Moskow membantah telah menargetkan warga sipil, dan menyalahkan Kyiv atas koridor kemanusiaan yang terus gagal.
Pada 21 April, Rusia menyatakan kemenangan di Mariupol meskipun pasukan Ukraina yang tersisa bertahan di kompleks bawah tanah yang luas di bawah Azovstal.
BERITA TERKAIT: