Sebuah laporan dari
ANI News pada Minggu (13/3) menyebut, China menggunakan aliansinya dengan Pakistan sebagai jalan untuk menjual industri pertahanannya.
Baru-baru ini, junta Myanmar disebut-sebut berencana untuk membeli mortir 60 dan 81 mm, peluncur granat M-79, hingga senapan mesin berat dari Pakistan.
Pada 2018, junta Myanmar membeli 16 unit jet tempur multi-peran JF-17 Thunder dari Pakistan seharga 560 juta dolar AS. Pesawat ini dikembangkan bersama oleh Pakistan Aeronautical Complex dan Chinese Chengdu Aerospace Corporation.
Kesepakatan tersebut itu difasilitasi oleh Dr Naing Htut Aung, pemasok senjata utama yang mewakili Grup Perusahaan Gerbang Internasional yang memiliki ikatan kuat dengan militer termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Senior Min Aung Hlaing.
Pada September tahun lalu, 10 orang delegasi Kementerian Pertahanan Pakistan bertemu dengan Menteri Pertahanan Myanmar untuk membahas penjualan JF-17. Pembicaraan juga membahas teknologi persenjataan canggih, perbaikan pesawat dan amunisi angkatan laut.
Sementara itu, menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), total pangsa ekspor senjata China menurun dari 5,5 persen pada 2019 menjadi 5,2 persen pada 2020.
Namun, ada pandangan kuat bahwa ekspor China dialihkan atau tidak dilaporkan.
Contoh spesifiknya adalah ketika sebuah kapal China menuju Pakistan ditahan pada tahun 2020 oleh pihak berwenang India karena membawa autoklaf, teknologi penggunaan ganda, sebagai pengering industri.
China tampaknya menggunakan Pakistan sebagai perantara untuk meminimalkan gelombang sentimen anti-China.
BERITA TERKAIT: