Kampanye dilakukan oleh 16 capres, termasuk pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta yang mendapat dukungan kuat dari partai CNRT (Conselho Nacional de Resistência Timorense).
Dalam pidatonya di Kota Lautem pada Rabu (2/3), Horta berjanji akan memenuhi kesepakatan dengan CNRT jika memenangkan mayoritas suara. Artinya ia akan membubarkan parlemen dan segera mengumumkan pemilihan parlemen untuk memperbaiki konstitusi yang disebut telah dilanggar oleh Presiden Francisco Guterres Lu Olo.
Lu Olo juga ikut bertanding dalam pilpres tahun ini untuk melanjutkan kekuasaannya.
"Saya akan membubarkan parlemen jika kami menang dengan suara mayoritas dan mengumumkan pemilihan parlemen baru," kata Horta, seperti dikutip
The Oekusi Post.
Menurut Horta yang merupakan presiden kedua Timor Leste, Lu Olo sudah tiga kali melanggar konstitusi Timor Leste. Salah satunya adalah tidak melantik anggota kabinet dari partai CNRT dan partai KHUNTO pada 2018.
Horta, yang selama lebih dari 20 tahun sebagai wakil tetap komandan FALINTIL di markas besar PBB, juga membantah tuduhan Partidu Libertasaun Popular (PLP) bahwa ia akan menciptakan krisis baru.
Horta mengatakan, krisis di Timor Leste sudah berlangsung sejak 2017 dan belum menghasilkan solusi.
"Saya tidak akan membuat krisis baru tetapi akan memberikan solusi untuk menyelesaikan krisis ini," ucap Horta, sembari mengatakan satu-satunya solusi adalah membubarkan parlemen.
BERITA TERKAIT: