Pada Senin (14/2), Guterres melakukan dialog secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba.
Dalam konferensi pers di markas besar PBB pada hari yang sama, Guterres mengaku sangat khawatir dengan meningkatnya ketegangan dan ketakutan konflik di Eropa Timur.
"Harga penderitaan manusia, kehancuran dan kerusakan pada keamanan Eropa dan global terlalu tinggi untuk dipikirkan. Kami tidak bisa menerima bahkan kemungkinan konfrontasi yang membawa bencana seperti itu," ujar Guterres, seperti dikutip
Anadolu Agency.
Guterres juga menekankan bahwa tidak ada alternatif untuk diplomasi dan mengakhiri pidatonya.
"Jangan gagal untuk perdamaian," tekannya.
Kuleba mengkonfirmasi pembicaraannya dengan Guterres di Twitter. Ia mengatakan mereka berbicara tentang cara-cara untuk mengurangi "krisis keamanan yang diciptakan oleh Rusia".
"Diplomasi adalah satu-satunya cara yang bertanggung jawab. Yakin bahwa PBB dapat dan harus mengambil bagian aktif dalam upaya diplomatik oleh Ukraina dan mitra untuk mengurangi ketegangan," kata Kuleba.
Pada Jumat (12/2), Penasihat Keamanan Nasional Presiden AS Joe Biden Jake Sullivan memperingatkan serangan segera dari Rusia terhadap Ukraina, dan mendesak warga Amerika untuk meninggalkan negara itu dalam 48 jam.
Beberapa laporan juga mengklaim Rusia dapat menyerang Ukraina pada hari Rabu (16/2).
Moskow baru-baru ini mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara di dekat Ukraina, memicu kekhawatiran bahwa Kremlin dapat merencanakan serangan militer terhadap Ukraina.
BERITA TERKAIT: