Melalui serangkaian bukti, pemerintah Inggris mengklaim ketegangan yang terjadi antara Ukraina dan Rusia saat ini merupakan bagian dari rencana tersebut.
Mengutip
iNews pada Minggu (23/1), Menteri Luar Negeri Inggris, Liz Truss mengatakan, informasi terbaru menyoroti sejauh mana aktivitas Rusia yang dirancang untuk menumbangkan Ukraina.
Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris (FCDO) bahkan menyebut mantan anggota parlemen Ukraina, Yevhen Murayev, telah dipersiapkan oleh Rusia untuk memimpin rezim baru setelah pemerintahan Presiden Volodymyr Zelenksy yang pro-Barat digulingkan.
Murayev merupakan pemilik media yang telah menyatakan dukungannya kepada Rusia. Ia juga setuju dengan langkah Rusia mencaplok Krimea pada 2014. Dia kehilangan kursinya di parlemen Ukraina ketika partainya gagal mengamankan 5 persen suara dalam pemilihan 2019.
Menurut FCDO, dinas intelijen Rusia masih memiliki hubungan dengan Murayev dan politisi Ukraina dari pemerintahan sebelumnya. Beberapa mantan pejabat itu menyusun rencana invasi bersama dengan perwira intelijen Rusia.
Selain Murayev, ada juga mantan perdana menteri Mykola Azarov. Ia menjabat di bawah kepemimpinan presiden pro-Rusia, Viktor Yanukovych, yang digulingkan rakyat pada 2014.
Azarov melarikan diri ke Rusia dan menjadi subyek sanksi internasional, serta
"red notice" Interpol yang dikeluarkan atas permintaan pemerintah Ukraina.
Di dalam pemerintah Inggris juga muncul mantan wakil kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Vladimir Sivkovich. Pekan ini ia mendapatkan sanksi AS karena diduga bekeja dengan intelijen Rusia.
Dalam sebuah pernyataan, FCDO dengan tegas mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina, termasuk Krimea.
Truss juga mendesak Rusia untuk menghentikan tindakan agresinya terhadap Ukraina dan menyebut akan ada konsekuensi serius.
“Rusia harus mengurangi eskalasi, mengakhiri kampanye agresi dan disinformasi, dan menempuh jalur diplomasi. Seperti yang Inggris dan mitra kami katakan berulang kali, setiap serangan militer Rusia ke Ukraina akan menjadi kesalahan strategis besar-besaran dengan biaya besar," ujarnya.
Awal pekan ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan Moskow bahwa menginvasi Ukraina akan menjadi bencana bagi dunia.
BERITA TERKAIT: