Di hadapan parlemen pada Rabu (12/1), Johnson untuk pertama kalinya mengakui laporan ia menghadiri pesta pada Mei 2020, ketika seluruh warga Inggris justru diminta untuk membatasi pertemuan sosial.
"Saya tahu kemarahan yang mereka (publik) rasakan terhadap saya atas pemerintahan yang saya pimpin ketika mereka berpikir bahwa di Downing Street sendiri, aturan tidak diikuti dengan benar oleh orang-orang yang membuat aturan," ujar Johnson, seperti dikutip
Reuters.
"Saya menawarkan permintaan maaf yang tulus," tambahnya.
Johnson mengatakan dia menyesali tindakannya dan mengira pertemuan itu adalah acara kerja. Sontak dalihan Johnson menarik ejekan dan tawa dari anggota parlemen oposisi yang mendesaknya untuk mundur.
"Saya pergi ke taman itu tepat setelah pukul enam pada 20 Mei 2020 untuk berterima kasih kepada sekelompok staf sebelum kembali ke kantor saya 25 menit kemudian untuk terus bekerja," jelasnya.
Para pemimpin semua partai oposisi utama menyerukan pengunduran dirinya, sementara pemimpin Konservatif di Skotlandia menjadi tokoh pertama di partainya yang mengatakan Johnson sekarang harus mundur.
Bahkan pemimpin Partai Buruh Keir Starmer mengatakan Johnson adalah seorang pembohong.
"Pesta sudah selesai, perdana menteri. Setelah berbulan-bulan kebohongan dan penipuan, tontonan menyedihkan dari seorang pria yang telah kehabisan jalan. Pembelaannya bahwa dia tidak menyadari bahwa dia berada di sebuah pesta sangat konyol sehingga sebenarnya menyinggung publik Inggris," ujarnya.
Laporan terkait pesta yang dihadiri Johnson muncul lewat
ITV. Media tersebut melaporkan Johnson dan rekannya Carrie berbaur dengan sekitar 40 staf di taman Downing Street setelah Sekretaris Utama Pribadi Martin Reynolds mengirim undangan yang meminta peserta untuk membawa minuman.
BERITA TERKAIT: