"Ekspor gas telah benar-benar dihentikan, dan semua volume gas diarahkan ke konsumen domestik," ujar seorang sumber di Kementerian Energi, seperti dikutip
Interfax.
Padahal pada November tahun lalu, pemerintah mengumumkan rencana untuk menaikkan harga listrik, gas, dan utilitas lainnya per 1 Januari. Namun 10 hari memasuki Januari, perubahan harga itu belum terwujud.
Dalam beberapa tahun terakhir, Uzbekistan menghadapi kekurangan gas, menimbulkan ketidakpuasan publik, meski tidak berujung pada aksi protes di jalanan.
Kendati begitu, kekacauan yang terjadi Kazakhstan tampaknya memicu kekhawatiran pemerintah Uzbekistan.
Di Kazakhstan, kekacauan yang menewaskan ratusan orang terjadi dipicu aksi protes besar-besaran untuk menolak harga gas LPG yang naik. Kerusuhan mendorong Rusia bersama CSTO mengirim pasukan perdamaian ke Kazakhstan.
Menurut data resmi pemerintah Uzbekistan, 47,1 miliar meter kubik gas diproduksi pada 2020, turun dari 57,4 miliar meter kubik pada 2019.
Hampir semua ekspor ditujukan ke China. Periode dari Januari hingga Oktober 2021, Uzbekistan mengekspor lebih dari 4 miliar meter kubik ke China, penjualan bernilai sedikit di atas 600 juta dolar AS.
Sebelum pandemi, Rusia membeli dalam jumlah yang sama, sebanyak 4,9 miliar meter kubik pada 2019, tetapi perdagangan itu berakhir pada awal 2020. Tajikistan dan Kirgistan juga membeli dalam jumlah kecil. Sebagian besar, sekitar 43-44 miliar meter kubik, diperuntukkan untuk kebutuhan domestik.
Pemerintah secara terbuka mengakui kekurangan di bidang penyediaan energi. Presiden Shavkat Mirziyoyev juga berulang kali membahas masalah tersebut.
Pada tahun 2020, kabinet mengumumkan ekspor gas akan berakhir pada tahun 2025. Sekarang tampaknya pemerintah telah memenuhi janji itu, tiga tahun lebih awal.
BERITA TERKAIT: