Dari laporan
The National Interest, foto-foto satelit yang diambil pada 2021 menunjukkan Beijing memperluas persenjataan nuklirnya secara dramatis.
Pada Oktober lalu, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China juga telah menguji sistem pengiriman nuklir berbasis ruang angkasa. Mereka juga mengisyaratkan sedang mengerjakan lebih banyak senjata untuk melawan sistem pertahanan rudal milik AS.
Pesatnya perkembangan senjata nuklir China dapat membalikan fakta historis yang menunjukkan bahwa Beijing selalu mempertahankan persenjataan nuklir yang jauh lebih kecil daripada Rusia atau AS.
China menyebut persenjataan nuklir merupakan pencegahan minimum yang berarti hanya memiliki cukup nuklir untuk memastikan serangan balasan.
Beijing juga menerapkan kebijakan "No First Use", yang berarti tidak akan menggunakan senjata nuklir untuk menyerang, kecuali serangan balasan.
Menurut Departemen Pertahanan AS, China diperkirakan memiliki sekitar 200 hulu ledak nuklir pada 2020. Namun diyakini jumlahnya saat ini berlipat ganda. Bahkan Bulletin of the Atomic Scientists menyebut ada sekitar 350 hulu ledak nuklir yang dimiliki China saat ini.
“Percepatan ekspansi nuklir Republik Rakyat China dapat memungkinkan China untuk memiliki hingga 700 hulu ledak nuklir yang dapat dikirim pada tahun 2027,†kata laporan
The National Interest.
China juga kemungkinan bermaksud memiliki setidaknya 1.000 hulu ledak pada 2030, melebihi kecepatan dan ukuran yang diproyeksikan Departemen Pertahanan pada 2030.
Sementara itu, AS memiliki 1.550 bom nuklir aktif, dan banyak lagi cadangan.
Keyakinan bahwa China mengembangkan senjata nuklir dengan pesat juga terlihat dari citra satelit yang menunjukkan 300 silo sedang dibangun di berbagai daerah terpencil di China.
Ratusan silo itu tersebar di Provinsi Gansu (120 silo), Provinsi Xinjiang (110 silo), dan Mongolia Dalam (80 silo).
BERITA TERKAIT: