Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dalam pernyataannya mengungkapkan, untuk sisa tahun 2021 dan hingga 2022, ekstremis kekerasan yang bermotivasi rasial dan ekstremis kekerasan anti-pemerintah/anti-otoritas akan terus menjadi ancaman bagi AS.
"Teroris asing atau domestik secara historis menargetkan tempat-tempat ramai dan kadang-kadang menyebabkan kausalitas massal (sic)," kata DHS, seperti dikutip dari
Reuters, Kamis (11/11).
Tanggal penting atau perayaan keagamaan juga bisa menjadi pemicu munculnya gelombang anti-pemerintah, ditambah dengan situasi penguncian karena pandemi yang biasanya dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mengacaukan situasi.
Jika pemerintah kembali memutuskan untuk lockdown karena ditemukannya varian baru Covid, maka itu akan dimanfaatkan oleh para pengacau untuk melakukan kekerasan terhadap pemerintah atau pejabat kesehatan masyarakat.
Narasi online juga bisa menjadi wadah mempromosikan atau menganjurkan kekerasan terhadap pejabat terpilih, perwakilan politik, fasilitas pemerintah, penegak hukum, komunitas agama atau fasilitas komersial, serta lawan ideologisnya.
DHS kemudian mengimbau semua lapisan masyarakat untuk waspada dan melaporkan aktivitas mencurigakan apa pun. Kemudian bekerja sama dengan pemerintah dalam meminimalkan potensi-potensi tersebut dengan melek media digital untuk mengenali dan membangun ketahanan terhadap narasi palsu dan berbahaya.
BERITA TERKAIT: