Densus 88 Ingatkan Dampak Kemenangan Taliban, Bisa Mengilhami Kelompok Teror Dunia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Selasa, 05 Oktober 2021, 15:33 WIB
Densus 88 Ingatkan Dampak Kemenangan Taliban, Bisa Mengilhami Kelompok Teror Dunia
Direktur Pencegahan Densus 88 Anti Teror Kombes Pol. M. Rosidi/Repro
rmol news logo Kembali berkuasanya Taliban di Afghanistan sejak pertengahan Agustus lalu telah menarik perhatian dunia. Kekhawatiran bahwa Taliban akan menjadikan Afghanistan menjadi sarang teror bermunculan.

Direktur Pencegahan Densus 88 Anti Teror Kombes Pol. M. Rosidi menyebut, kemenangan Taliban di Afghanistan memang perlu diwaspadai.

"Kemenangan Taliban bisa menjadi contoh atau pun di copy paste oleh kelompok-kelompok lainnya untuk terus berjuang sebagaimana yang telah dilakukan Taliban di Afghanistan," kata Rosidi dalam webinar bertajuk "Berkuasanya Taliban di Afghanistan: Apa Pengaruhnya terhadap Indonesia?" pada Selasa (5/10).

Selain itu, kemenangan Taliban juga bisa menarik para foreign terrorist fighters (FTF) dari seluruh dunia untuk bergabung ke Afghanistan.

Jika hal itu terjadi, Afghanistan bisa menjadi medan pertempuran baru. Terlebih propaganda Taliban merupakan representasi kelompok yang berjuang demi tegaknya syariat Islam.

Menurut Rosidi, kemenangan Taliban juga dikhawatirkan bisa dimanfaatkan oleh kelompok teror di Afghanistan untuk menjadikan negara tersebut sebagai medan latihan.

"Kemudian mereka bisa membangun jaringan teror dari seluruh kelompok teror yang ada di dunia," tambahnya.

Rosidi juga menyoroti kemungkinan para mantan teroris atau pejuang kelompok teror yang kembali dari medan-medan pertempuran dapat menjadi ancaman bagi negara asalnya.

"Konflik di Afghanistan ini juga dapat dimanfaatkan kelompok-kelompok teroris untuk mengumpulkan dana," pungkasnya.

Webinar yang digelar The Habibie Center ini juga mengundang Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. Ahmad Nurwahid, Direktur Eksekutif Institute for Policy Analysis of Conflict Dr. Sana Jaffrey, dan pengamat terorisme Nasir Abbas. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA