Hal itu diungkap oleh Saleh lewat akun Twitter-nya, @AmrullahSaleh2, pada Jumat (3/9).
Saleh menyebut, Taliban sudah memblokir akses kemanusiaan ke Panjshir. Mereka juga memutus sambungan telepon, listrik, hingga tidak mengizinkan masuknya obat-obatan. Akibatnya, orang-orang hanya bisa bertahan menggunakan sejumlah kecil uang tunai.
"Selama 23 tahun terakhir sejak berdirinya Rumah Sakit Darurat, kami tidak pernah memblokir akses Taliban ke sana," lanjut Saleh.
Ia juga mengatakan, Taliban melakukan skrining profil etnis bagi para pelancong, hingga menggunakan pemuda Panjshir untuk membersihkan ranjau dengan cara berjalan di ladang ranjau.
"Taliban melakukan kejahatan perang dan tidak menghormati hukum humaniter internasional. Kami meminta para pemimpin PBB dan dunia untuk memperhatikan perilaku kriminal dan teroris yang jelas dari Taliban ini," pungkasnya.
Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran antara Taliban dan kelompok perlawanan Panjshir semakin intens, meski menjelang pengumuman pemerintahan baru rezim Taliban di Afghanistan.
Dari laporan
ToloNews, Taliban telah merebut pusat distrik Shutul di Panjshir pada Kamis (2/9), dengan 11 pos. Taliban juga menyebut 34 anggota kelompok perlawanan meninggal.
Klaim Taliban sendiri dibantah oleh kelompok perlawanan yang dipimpin Massoud. Sebaliknya, jurubicara kelompok perlawanan Fahim Dashti mengatakan 350 pejuang Taliban meninggal dan 290 terluka selama pertempuran empat hari.
BERITA TERKAIT: