Kini, janji itu kembali ditegaskan saat Wakil Kepala Kantor Politik Taliban Abdul Salam Hanafi melakukan diskusi telepon bersama Asisten Menteri Luar Negeri China Wu Jianghao, pada Kamis (2/9).
"Taliban tidak akan pernah mengizinkan pasukan mana pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk mengancam kepentingan China, dan akan mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan perwakilan dan personel China di Afghanistan," kata Hanafi, seperti dikutip dari
Global Times, Jumat (3/9).
Menanggapi itu, Wu mengatakan situasi di Afghanistan saat ini telah menyaksikan perubahan mendasar, dan masa depan serta nasib mereka sekali lagi berada di tangan rakyatnya sendiri.
"China selalu menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Afghanistan dan telah menerapkan kebijakan bersahabat terhadap rakyat Afghanistan," kata Wu.
Kepada Hanafi, Wu menyampaikan harapan agar supaya Afghanistan bisa mencapai perdamaian dan stabilitas dan membangun kembali tanah air mereka sesegera mungkin.
Dalam percakapan itu, keduanya juga membahas soal kerja sama Belt and Road Inititiative yang digagas China.
"China mengusulkan kerja sama Belt and Road Initiative yang kondusif untuk pengembangan dan kemakmuran Afghanistan dan lintas kawasan, dan Afghanistan terlihat untuk lebih sungguh-sungguh mendukung dan berpartisipasi dalam kerja sama," kata Hanafi, seraya mencatat bahwa China adalah teman terpercaya Afghanistan, dan Taliban bersedia untuk lebih terlibat dalam mengembangkan hubungan persahabatan dengan Beijing.
Setelah panggilan telepon, juru bicara Taliban Suhail Shaheen mentweet bahwa kedua belah pihak membahas situasi Afghanistan yang sedang berlangsung dan hubungan di masa depan.
Sementara Wu mengatakan bahwa China akan mempertahankan kedutaan mereka di Kabul, dan menegaskan lagi hubungan China-Afghanistan akan meningkat dibandingkan dengan masa lalu.
BERITA TERKAIT: