Menurut ekonom dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Iman Sugema, China masih mempertimbangkan
marginal cost dan marginal benefit yang akan didapat Beijing dari Taliban.
"Kalau menurut
political economy, yang paling menentukan sebuah negara atau seorang presiden memutuskan sesuatu itu adalah apa yang disebut dengan
marginal cost dibandingkan
marginal benefit," ujarnya dalam diskusi
FEMSTATION bertajuk "Sentimen Taliban, Implikasinya ke Indonesia" pada Selasa (24/8).
Diskusi itu juga menghadirkan dosen hubungan internasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Teguh Santosa sebagai narasumber, dan Hardy Hermawan sebagai moderator.
Iman menekankan, kepentingan China masih belum terdefinisi dengan jelas. Di sisi lain, bentuk rezim baru Taliban juga belum diputuskan.
Sejauh ini, Taliban telah membuka diri untuk China, dan Beijing pun telah menyatakan kesiapannya untuk merekonstruksi Afghanistan.
"Hanya saja akan tergantung ongkosnya buat China berapa? Ini bukan sesuatu yang
free loh. Mengubah sebuah negara, kemudian membuatnya menjadi ramah terhadap investasi itu perlu proses," tambahnya.
Iman menilai, keputusan keterlibatan China di Afghanistan di masa depan akan bergantung pada dinamika yang terjadi beberapa pekan ke depan. Jika rezim baru Taliban tidak bisa menawarkan manfaat untuk China, maka Beijing akan secara rasional untuk mundur.
"Apakah rezim yang akan terbentuk ini mampu memberikan manfaat untuk China?" kata Iman.
Situasi China berbeda dengan Pakistan. Pakistan memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Afghanistan, khususnya Taliban yang didominasi Pashtun.
BERITA TERKAIT: