Para pejabat China mengatakan Beijing siap memberikan investasi dan dukungan yang tulus untuk Afghanistan setelah ditinggalkan Amerika Serikat (AS). Tetapi ada beberapa hal yang menjadi perhatian bagi Beijing.
Selain khawatir dengan ancaman sanksi Barat, China juga berharap Taliban bisa membentuk pemerintahan yang moderat dan stabil sehingga dapat mencipatakan kondisi keamanan terbaik di kawasan.
"Kami telah mendapat banyak manfaat dari rencana bisnis kami di Afghanistan dalam 5 tahun terakhir, dan kami yakin operasi akan berjalan efektif setelah situasi stabil," kata seorang pekerja China di China Town, Kabul bernama Cassie, seperti dikutip
Global Times, Selasa (24/8).
Banyak asumsi menyebut China berusaha untuk menguasai 1 triliun miniral yang dimiliki Afghanistan, menggunakan Belt and Road Initiatives (BRI). Tetapi seorang pejabat China mengatakan, Beijing sebenarnya ragu-ragu untuk memasukkan uang ke Afghanistan, kecuali Taliban sudah memenuhi janji-janjinya, termasuk mengakhiri dukungan bagi kelompok teroris Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM).
Berdasarkan sejarah, ETIM memiliki afiliasi dengan Al Qaeda yang mencari perlindungan di Afghanistan, dan dinilai telah memengaruhi kelompok separatis Xinjiang.
Selain China, ada Iran, Pakistan, Rusia, dan Tajikistan yang juga menjadi pemain utama dalam upaya membentuk pemerintahan baru Taliban, yang mulai berkuasa pada 15 Agustus setelah Kabul menyerah tanpa perlawanan dan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.
BERITA TERKAIT: