Hal itu disampaikan oleh anggota kunci dari Komite Vaksin Nasional Nakorn Premsri pada Rabu (14/7), ketika ditanya wartawan tentang rencana untuk menempatkan kuota ekspor vaksin. Meski demikian, belum ada lampu hijau yang diberikan.
"Saat ini, perintah itu belum dikeluarkan," kata Nakorn, seraya menambahkan bahwa berbagai lembaga perlu meninjau dan mempertimbangkan dampaknya.
Dia tidak membahas pada tingkat apa kuota ekspor mungkin ditetapkan.
"Saat ini kami akan berbicara dengan produsen vaksin sehingga mereka dapat mengirimkan vaksin ke Thailand dengan cara yang sesuai dengan situasi wabah di negara itu," sambung Nakorn.
Jika direalisasikan, maka langkah tersebut akan mungkin berdampak pada negara tetangga dan menimbulkan kekhawatiran tentang proteksionisme vaksin.
Reuters mewartakan, setiap upaya untuk mengatur ekspor lebih lanjut dapat memperlambat peluncuran vaksin Covid-19 ke Malaysia, Vietnam dan Indonesia. Pasalnya, pada akhir Juni lalu, AstraZeneca Thailand mengatakan mitranya Siam Bioscience, yang dimiliki oleh Raja Thailand Maha Vajiralongkorn, akan memproduksi 180 juta dosis vaksin tahun ini.
Lebih dari sepertiganya diperuntukan bagi Thailand dan dua pertiga lainnya untuk negara-negara tetangga di kawasan Asia tenggara.
Meski begitu, belum ada tanggapan resmi dari perwakilan AstraZeneca mengenai pernyataan Nakorn tersebut.
BERITA TERKAIT: