Menurut kabar yang dimuat
Russia Today pada Senin (5/7), otoritas keamanan di India menutup dan membatalkan lisensi dari sebuah rumah sakit di Mumbai, yakni Rumah Sakit Shivam yang juga dijadikan pusat vaksinasi, pada akhir pekan kemarin. Hal itu dilakukan lantaran ada dugaan penipuan vaksin besar-besaran yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut.
Rumah sakit tersebut pada awal tahun ini resmi terdaftar sebagai pusat vaksinasi swasta dan menerima izin pemerintah untuk mengimunisasi orang terhadap virus corona. Sejak saat itu, pihak rumah sakit telah menerima lebih dari 20 ribu dosis vaksin dari badan sipil yang mengatur Mumbai yakni BMC. Namun sayangnya, mereka menyalahgunakan tanggungjawab tersebut.
Polisi menduga, pihak rumah sakit telah menahan dosis vaksin untuk digunakan dalam skema ilegal. Salah satu aksi nakalnya adalah mengisi ulang botol vaksin kosong dengan air garam.
Polisi juga menduga, sejak Mei hingga Juni tahun ini, ada sekitar 2.000 orang yang sudah divaksinasi dengan vaksin palsu di Mumbai. Alih-alih mendapatkan vaksin Covid-19, ribuan orang tersebut malah disuntik air garam.
"Kami telah menangkap semua ikan besar sekarang. Kami akan menangkap lebih banyak lagi jika ada orang lain yang terlibat," kata komisaris gabungan kepolisian, hukum dan ketertiban Mumbai, Vishwas Nangre Patil, dalam konferensi pers awal pekan ini.
Sayangnya, oknum nakal tersebut tidak hanya satu. Sejauh ini, pihak kepolisian India sedang melakukan penyelidikan pada setidaknya 10 pusat vaksinasi yang diduga meraup keuntungan sekitar 2,6 juta rupee dari skema vaksin palsu ini.
Polisi sedang menyelidiki soal cairan apa yang disuntikan tersebut. Sejauh ini temuannya adalah air garam, namun temuan lain di Kolkata menemukan bahwa cairan vaksin diganti antibiotik.
Menurut keterangan dua warga yang menjadi korban penyuntikan vaksin palsu ini, mereka masing-masing telah membayar sekitar 1.260 rupee untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19, namun ternyata yang mereka dapatkan adalah vaksin palsu. Mereka pun sempat menerima sertifikat palsu dari pusat swasta yang dimasukkan ke dalam database vaksinasi pemerintah.
BERITA TERKAIT: