Namun begitu, Lavrov memastikan bahwa Rusia siap untuk menormalisasi hubungan dengan AS asalkan negara itu berhenti bersikap seperti 'Raja' dan menggalang sekutunya melawan Rusia dan China. Namun, jika AS menghindari upaya dialog maka bukan tidak mungkin hubungan kedua negara akan jauh lebih buruk dari Perang Dingin.
"Selama Perang Dingin, ketegangan meningkat tinggi. Beberapa situasi krisis sering muncul, tetapi masih ada rasa saling menghormati," kata Lavrov, dalam wawancara televisi pemerintah Rusia pada Rabu (28/4), dikutip dai
AP.
Sementara saat ini, bahkan rasa saling menghormati itu sudah tidak ada lagi.
Pemerintahan Biden telah menampar Rusia dengan sanksi karena ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2020 dan karena keterlibatan dalam peretasan SolarWind terhadap badan-badan federal. Mosow sendiri telah membantah keras hal ini.
Kemudian AS mengusir 10 diplomat Rusia dan memberi sanksi pada puluhan perusahaan dan individu. Namun, saat memerintahkan sanksi, Presiden AS Joe Biden juga menyerukan untuk meredakan ketegangan dan membuka pintu untuk kerja sama dengan Rusia di bidang tertentu.
Rusia dengan cepat membalas dengan memerintahkan 10 diplomat AS untuk pergi, memasukkan delapan pejabat AS dan mantan pejabat AS dan memperketat persyaratan untuk operasi Kedutaan Besar AS.
Sebagai bagian dari pembatasan, Rusia melarang Kedutaan Besar AS dan konsulatnya mempekerjakan warga negara Rusia dan warga negara ketiga. Larangan serupa juga akan diterapkan ke negara lain yang ditetapkan sebagai "tidak ramah".
Lavrov mengatakan bahwa daftar negara-negara itu akan segera diterbitkan dalam waktu dekat.
Surat kabar Izvestia melaporkan bahwa ada sepuluh negara yang masuk dalam daftar 'negara tidak ramah' yang perlu diwaspadai karena telah melakukan kebijakan Anti-Rusia.
BERITA TERKAIT: