Terjepit Pandemi, Negara-negara Pasifik Gencar Cari Bantuan Pinjaman Ke China

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Senin, 25 Januari 2021, 14:36 WIB
Terjepit Pandemi, Negara-negara Pasifik Gencar Cari Bantuan Pinjaman Ke China
Kepulauan Cook/Net
rmol news logo Terjepit oleh pandemi membuat negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik mencari bantuan, khususnya ekonomi, dari China daripada mitra tradisionalnya di Barat.

Salah satunya adalah Kepulauan Cook yang memiliki 20 ribu penduduk. Kepulauan Cook telah beralih ke Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang didukung oleh Beijing sejak akhir tahun lalu.

Sebelumnya Kepulauan Cook gagal mendapatkan pinjaman dari Amerika Serikat dan Asian Development Bank (ADB) yang dipimpin oleh Jepang, serta hibah dari Selandia Baru.

Dikutip dari Reuters pada Senin (25/1), Kepulauan Cook mendapat pinjaman sebesar 20 juta dolar AS dari AIIB. AIIB juga memberikan fasilitas pinjaman untuk Fiji sebesar 50 juta dolar AS.

Selama ini, pinjaman dari AIIB selalu dikaitkan dengan megaproyek China, Belt and Road Initiatives (BRI).

Pekan lalu, Vanuatu yang memiliki populasi 300 ribu jiwa juga mengumumkan telah menerima hibah sebesar 12 juta dolar AS dari pemerintah China.

Setelah menutup perbatasan karena pandemi Covid-19, ekonomi negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik terpukul hebat, mengingat mereka bergantung pada sektor pariwisata internasional.

Sejak Perang Dunia II, pengaruh China di Pasifik telah banyak membuat khawatir AS dan para sekutunya.

Meskipun kecil, negara-negara di Pasifik memiliki pelabuhan yang strategi dengan jalur udara yang dapat mengendalikan sebagian besar lautan yang kaya akan sumber daya. Selain itu, suara mereka juga penting di beberapa forum internasional.

Kepulauan Cook merupakan salah satu pos terdepan ketika Perang Dunia II dan memiliki perjanjian asosiasi bebas dengan Selandia Baru.

Saat ini, utang luar negeri Kepulauan Cook sebesar 153,2 juta dolar AS yang tersebar di beberapa badan terkait dengan pemerintah China seperti AIIB dan Bank Exim China. Angka tersebut naik 16 persen sebelum pandemi.

Kepulauan Cook juga mendorong pinjaman tambahan sebesar 50,74 juta dolar AS selama tiga tahun ke depan untuk menutupi kekurangan.

Dosen senior di Pusat Pertahanan dan Studi Keamanan di Universitas Massey yang berbasis di Wellington, Anna Powles mengatakan, dengan pinjaman tersebut, Kepulauan Cook dan negara-negara Pasifik lainnya memiliki ketergantungan pada China.

"Jika AIIB menjadi pemberi pinjaman utama ke Pasifik dan pemulihan ekonomi kawasan didorong oleh pinjaman China, maka pasti akan ada penyebab kekhawatiran yang signifikan bahwa ketergantungan ekonomi dapat dieksploitasi," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA