Hal itu disampaikan oleh kepala eksekutif BioNTech Ugur Sahin pada Selasa (22/12), seperti dikutip dari
CNA.
"Saat ini kami tidak tahu apakah vaksin kami juga mampu memberikan perlindungan terhadap varian baru ini. Tetapi karena protein pada varian tersebut 99 persen sama dengan yang sudah ada, BioNTech memiliki keyakinan ilmiah dalam vaksin," ujarnya.
Sahin mengatakan, BioNTech saat ini sedang melakukan studi lebih lanjut dan berharap mendapatkan kepastian dalam beberapa pekan mendatang.
"Kemungkinan vaksin kami bekerja relatif tinggi," katanya.
Jika perlu, Sahin mengatakan, BioNTech akan menyesuaikan vaksinnya dalam waktu enam pekan karena vaksin tersebut tergantung pada teknologi messenger RNA (mRNA).
"Pada prinsipnya, keindahan dari teknologi messenger adalah bahwa kami dapat langsung mulai merekayasa vaksin yang sepenuhnya meniru mutasi baru ini, kami dapat memberikan vaksin baru secara teknis dalam enam minggu," terang dia.
Sahin menambahkan, varian virus baru yang terdeteksi di Inggris memiliki sembilan mutasi, bukan hanya satu seperti biasanya. Virus itu juga disebut memiliki 70 persen tingkat penularan yang lebih tinggi.
Vaksin BioNTech, yang dikembangkan bersama dengan perusahaan farmasi Amerika Pfizer sudah diizinkan untuk digunakan di lebih dari 45 negara termasuk Singapura, Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT: