Khazzani mengaku menyesal saat putusan dibacakan. Pengadilan mengatakan Khazzani melakukan "serangan tanpa pandang bulu" yang -jika berhasil- akan sangat mematikan.
Namun, situasi saat itu tidak memungkinkan upayanya berjalan mulus karena mendadak senjatanya macet, ditambah dengan keberanian penumpang yang luar biasa yang melawannya termasuk tentara AS yang berada di dalam kereta itu yang sedang tidak bertugas.
"Saya menyesal sampai ke lubuk hati saya," kata Khazzani, seperti dikutip dari AFP, Kamis (17/12). "Apa yang saya lakukan membuat saya hancur."
Dia berargumen bahwa meskipun bersenjata lengkap dengan senapan otomatis AK-47 dan 300 butir amunisi, dia membatalkan rencana serangan tersebut di detik-detik terakhir karena dia tidak dapat membunuh orang.
Namun jaksa penuntut mengatakan, batalnya serangan itu karena senjatanya yang rusak serta keberanian para penumpang yang sanggup menghentikan aksinya di dalam kereta berpenumpang 150 orang itu.
Khazzani mengaku dia melakukan serangan di bawah perintah Abdelhamid Abaaoud dari Belgia, yang diyakini sebagai salah satu dalang di balik serangan berdarah November 2015 terhadap bar dan restoran di Paris, untuk membunuh tentara Amerika di kereta.
Abaaoud sendiri dibunuh oleh polisi di pinggiran kota Paris lima hari setelah dia menembak tanpa pandang bulu di teras kafe yang penuh sesak di Paris pada malam serangan 13 November di ibu kota Prancis.
Serangan mengerikan di kereta Thalys berkecepatan tinggi Amsterdam-Paris telah menginspirasi film 2018 "The 15:17 to Paris" yang disutradarai oleh legenda Hollywood Clint Eastwood.
BERITA TERKAIT: