Pernyataan itu disampaikan oleh pelaksana tugas Asisten Sekretaris Jenderal Urusan Kemanusiaan Ramesh Rajasingham dalam konferensi pers pada hari Selasa (15/12) waktu setempat.
“Kami beralih dari situasi di mana kami (meminta) dukungan untuk menargetkan sekitar 11 juta orang pada tahun 2020 menjadi apa yang kami perkirakan akan menjadi hampir 16 juta orang tahun depan,†ungkapnya, seperti dikutip dari
Al-Jazeera, Rabu (16/12).
Rajasingham, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Afghanistan juga menyoroti musim dingin yang sangat keras yang biasanya dialami negara itu.
“Kebutuhan meningkat dan pendanaan sangat dibutuhkan. Meningkatnya kebutuhan adalah hasil dari krisis Covid-19, meningkatnya konflik dan perpindahan penduduk,†kata Rajasingham.
Selain jutaan warga Afghanistan yang mengungsi secara internal atau sementara, 4,6 juta lainnya tinggal di luar negeri, di mana 2,7 juta di antaranya adalah pengungsi terdaftar.
Secara kolektif, mereka mewakili salah satu populasi terlama yang kehilangan tempat tinggal dan terlama di seluruh dunia.
BERITA TERKAIT: