Salah satunya adalah pecahnya persatuan negara yang salah satunya ditimbulkan dari cara penanganan pandemic yang simpang siur, serta adanya disinformasi.
Melalui Bali Democracy Forum (BDF) 2020 ini, negara-negara diharapkan bisa menekan timbulnya kesalahpahaman yang dipicu dari kurangnya informasi yang tepat.
“BDF tahun ini berisi pesan dari masing-masing pilar yang akan disampaikan oleh setiap perwakilan,†terang Direktur Diplomasi Publik Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik (Dirdiplik) Kemenlu, Yusron B Ambary, dalam acara diskusi virtual yang diselenggarakan
Kantor Berita Politik Republik Merdeka, Senin (14/12).
Lewat key message itu, negara-negara diharapkan bisa tetap bersatu di tengah pandemi, dan menjalankan demokrasi dengan baik. Key Message ini terkait dengan tiga pilar utama yang dibahas dalam ajang BDF.
Di antaranya adalah langkah-langkah dalam menganangi pandemic atau respon, lalu upaya yang dijalankan bagi pemulihan atau recovery, serta yang ketiga adalah upaya untuk bangkut dengan membangun ketahanan atau resilience.
“Jangan lupa bahwa demokrasi untuk bertahan menghadapi berbagai kondisi bergantung pada kepercayaan yang diperoleh dari masyarakatnya. Apalagi setiap negara memiliki cara penanganan yang berbeda-beda,†ujar Yusron.
Kepercayaan ini yang kemudian mendorong masyarakat untuk aktif berkontribusi pada proses demokrasi yang inklusif dan pada akhirnya bersama-sama dengan pemerintah dalam memulihkan dan membangun ketahanan di masa hingga pasca pandemic, menurutnya.