Upacara kelulusan di mana raja secara pribadi membagikan gelar merupakan momen yang selama ini dibangga-banggakan. Foto-foto momen itu bahkan dipanjang di banyak rumah Thailand.
Namun para mahasiswa pada Jumat (30/10) mengatakan akan ikut menunjukkan kemarahan mereka pada monarki di tengah seruan reformasi yang digaungkan oleh para pengunjuk rasa sejak pertengahan Juli.
Suppanat Kingkaew yang berusia 23 tahun mengatakan dia memboikot upacara yang diadakan pada Jumat dan Sabtu (31/10) di Universitas Thammasat.
"Ini untuk mengirimkan pesan tidak langsung bahwa sebagian dari kita tidak senang dengan monarki dan menginginkan perubahan," kata dia kepada
Reuters.
Tidak jelas berapa banyak mahasiswa Thammasat yang akan mengikuti boikot.
Papangkorn Asavapanichakul, mahasiswa berusia 24 tahun mengaku akan hadir dan tidak akan menyia-nyiakan momen tersebut.
"Saya ingin foto itu. Ini adalah acara sekali seumur hidup," ujarnya.
Banyak mahasiswa mengaku, mereka menghadiri upacara tersebut karena tekanan keluarga, alih-alih politik.
“Ibu saya meminta saya untuk datang. Sejujurnya, saya tidak benar-benar ingin bergabung,†kata seorang siswa berusia 24 tahun yang menyebut namanya hanya sebagai Jepang.
Sampai berita ini dirilis, baik pihak universitas maupun istana belum memberikan komentar.
Aksi protes yang terjadi di Thailand bertujuan untuk menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha, amandemen konstitusi, dan reformasi monarki.
Para pengunjuk rasa mengatakan kekuasaan raja harus dikurangi dan perubahan yang memberinya kendali pribadi atas beberapa unit tentara dan kekayaan istana harus dibalik.