Partai Pusat Demokrat yang berkuasa kini menjadi sorotan akan tuntutan masyarakat soal keamanan mereka.
Ada tiga pembunuhan terpisah dalam satu hari pada Jumat pekan lalu, dengan total 17 kematian di provinsi Arauca, Cauca dan Narino.
Di Narino, delapan orang muda tewas dalam serangan terpisah pada 16 Agustus ketika sebuah kelompok bersenjata memasuki sebuah rumah dan menembak mereka.
Lebih dari 25 orang, beberapa dari mereka adalah anak-anak, telah terbunuh dalam serangan terpisah di beberapa wilayah. Siapakah pelakunya?
Peristiwa itu mulanya diketahui pada 11 Agustus ketika polisi menemukan mayat lima remaja dengan tubuh penuh luka penyiksaan di kota barat daya Cali. Beberapa ada tanda luka tembak.
Hasil temuan kelompok hak asasi manusia WOLA, mengungkapkan para korban adalah remaja Afro-Kolombia yang tinggal di lingkungan yang dihuni oleh keluarga yang mengungsi akibat konflik selama bertahun-tahun antara pasukan pemerintah dan gerilyawan sayap kiri.
Tak lama setelah penemuan itu, beberapa hari kemudian aparat menemukan lagi delapan pemuda yang baru saja lulus sekolah. Hasil menyelidikan mengungkapkan mereka telah disergap dan dibunuh di sebuah pesta di provinsi Narino. Mayat telah ditemukan di tempat lain -seperti di ladang, di mana petani dibunuh karena alasan yang tidak diketahui.
Erlendy Cuero dari AFRODES, sebuah asosiasi pengungsi Afro-Kolombia, mengatakan kepada
Al Jazeera bahwa orang-orang di Llano Verde sekarang khawatir dan hidup dalam ketakutan.
“Orang-orang yang memiliki anak takut bahwa hal yang sama yang terjadi pada mereka berlima bisa terjadi pada mereka,†katanya. “Ada banyak ketakutan karena pembantaian ini membuat orang sadar bahwa kelompok ini tidak terlalu peduli siapa yang mereka bunuh, bahkan jika itu anak-anak.â€
Pihak berwenang tidak mengetahui apa yang terjadi dan siapa yang berada di balik tindakan ini. Sejauh ini, Kolombia memang memiliki selusin kelompok paramiliter, sayap kiri, dan kriminal.
Situasi yang memburuk telah menyoroti pemerintahan Presiden Ivan Duque, terlebih ia lebih banyak -sepertinya- berkelit untuk menutupi kelalaiannya.
Duque dan para pejabatnya telah menggunakan eufemisme 'pembunuhan berantai' untuk menggambarkan pembantaian tersebut. Beberapa pihak dan media setempat menyebutkan itu adalah upaya untuk menutupi kesalahan keamanan.
Berlanjut dengan kekerasan lain, munculnya pembunuhan brutal di mana seorang pria ditemukan dengan leher digorok.
Tahun lalu, Kolombia berhasil menekan angka kematian aibat pembunuhan setelah kesepakatan damai tahun 2016 antara negara Kolombia dan gerilya sayap kiri, Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).
Komisi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dibentuk untuk memantau kesepakatan damai, mengatakan sepanjang 2020 ada 33 pembantaian sipil.
Pembunuhan tahun ini mengingatkan kembali pada tahun 1980-an dan 1990-an ketika sindikat penyelundupan narkoba yang kejam bertempur dalam perang wilayah.
Gembong narkoba Kolombia yang terkenal, Pablo Escobar, dulu bertempur melawan Kartel Cali -dinamai menurut kota yang sama dengan tempat kelima remaja itu tewas baru-baru ini.
Duque menyalahkan kelompok obat bius di negara yang merupakan pusat utama produksi koka, bahan utama yang digunakan untuk membuat kokain. Produksi koka negara ini masih mencapai rekor tertinggi meski telah memusnahkan lebih dari 100.000 hektar tanaman pada tahun 2019.
Partai Pusat Demokrat sayap kanan Duque menentang kesepakatan damai dengan FARC yang ditandatangani pendahulunya, Juan Manuel Santos.
Kelompok paramiliter sayap kanan dibentuk untuk melawan militan Marxis. Pasukan sayap kiri terbesar kedua di negara itu, kepemimpinan Tentara Pembebasan Nasional (ELN), menyalahkan paramiliter sayap kanan atas meningkatnya kekerasan.
Ada kekhawatiran bahwa beberapa anggota kelompok bersenjata FARC yang tidak puas telah bergabung dengan sindikat kriminal.
Dengan ditutupnya sekolah karena pandemik, anak-anak menjadi sangat rentan sebagai sasaran kelompok yang terus mencari aliran baru.
Miguel Ceballos, komisaris perdamaian pemerintah Kolombia, memperkirakan bahwa kelompok bersenjata telah merekrut secara paksa sekitar 14.000 anak perempuan dan laki-laki selama 20 tahun terakhir.
BERITA TERKAIT: