Kepala Sekolah St. Olaf College David Anderson mengatakan 50 orang siswa perlu dikarantina karena kurangnya jarak sosial. Sebagian besar karantina itu diperlukan karena pesta di luar kampus, yang diadakan minggu lalu sebelum mahasiswa pindah ke asrama kampus.
“Ini adalah jenis perilaku sembrono yang akan mengakhiri semester kita secara langsung, dan itu harus dihentikan,†kata Anderson, seperti dikutip dari
Star Tribune, Jumat (21/8).
Anderson mengtakan pihak sekolah mengetahui bahwa orang-orang yang berkumpul di pesta dan tidak mempraktikkan jarak sosial, dan hasil yang bisa diprediksi akhirnya terjadi.
"Beberapa siswa terpapar Covid-19 di pesta oleh orang lain yang terinfeksi dan akhirnya menularkan kepada siswa yang tidak bersalah seperti teman sekamar mereka," kata Anderson.
Anderson mendesak para siswa untuk memakai masker, menjaga jarak secara sosial, memantau gejala dan menghormati janji kesehatan masyarakat yang mereka tandatangani sebelum tiba di kampus.
“Sekarang tergantung pada kita semua untuk bertindak aman dan menjaga kesehatan satu sama lain,†kata Anderson.
Pejabat sekolah juga mengumumkan bahwa mereka melakukan lebih dari 3.400 tes Covid-19 kepada siswa, fakultas, dan staf saat mereka membuka kembali kampus. Hasil dari 3.055 tes kembali dengan tingkat positif 0,3 persen. Hingga Kamis perguruan tinggi itu memiliki delapan siswa yang dinyatakan positif.
Semua siswa St. Olaf akan diuji kembali dalam dua minggu, dengan pengujian acak sepanjang semester. Siswa juga diharapkan menyelesaikan pemeriksaan kesehatan harian sebelum menghadiri kelas tatap muka.