Rumah sakit yang terletak di Omsk tersebut dikabarkan tidak mengizinkan Navalny untuk dipindahkan ke fasilitas lain yang lebih lengkap, di mana ia bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Jurubicara Navalny, Kira Yarmysh pada Jumat (21/8) mengatakan, dokter yang merawat Navalny hingga saat ini belum memastikan diagnosis bahwa lelaki 44 tahun tersebut telah diracuni.
Mengutip kepala dokter, Yarmysh mengatakan, kondisi Navalny saat ini tidak stabil dan rumah sakit menganggap keinginan keluarga untuk memindahkannya ke fasilitas lain tidak bisa membenarkan tindakan tersebut.
"Larangan menyangkut Navalny dalam upaya hidupnya dilakukan sekarang oleh dokter dan otoritas penipu yang telah mengizinkannya," tulis Yarmysh dalam akun media sosialnya, seperti dikutip
Reuters.
Selain itu, ia juga mengatakan, kunjungan kerabat untuk Navalny dibatasi.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan tawaran bantuan bagi Navalny untuk dirawat di Eropa.
Bahkan, Yarmysh mengatakan, sebuah helikopter ambulans Jerman lengkap dengan tim khusus untuk merawat pasien koma akan mendarat di Omsk sekitar pukul 06.00 GMT.
Penolakan dari rumah sakit memicu spekulasi Navalny diracuni semakin besar. Pasalnya, insiden ini juga terjadi di tengah mencuatnya protes dukungan terhadap unjuk rasa di Belarusia dan pemilihan umum daerah.
Navalny sendiri jatuh sakit setelah meminum teh di bandara Tomsk yang diyakini Yarmysh telah diracun, pada Kamis (20/8).
Ketika di pesawat, Navalny mengaku kesakitan hingga akhirnya pilot harus melakukan pendaratan darurat di Omsk dan Navalny dilarikan ke rumah sakit sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Saat ini, Yarmysh mengungkap, Navalny masih dalam kondisi koma dengan ventilator yang terpasang di tubuhnya.
Navalny merupakan pemimpin oposisi pemerintahan Presiden Vladimir Putin. Ia dikenal sangat berani mengkritik penguasa Rusia tersebut hingga akhirnya keluar-masuk penjara.
Ia merupakan seorang pengacara dan aktivis anti-korupsi. Ia juga pernah mengungkap korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Rusia.
BERITA TERKAIT: