Sesuai dengan sebutannya, ribuan warga Israel menentang kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Sembari mengenakan masker dan tetap menjaga jarak fisik dua meter antar pengunjuk rasa, mereka mengibarkan bendera hitam pada Minggu (19/4).
Di bawah pembatasan gerak pemerintah Israel, warga memang diperbolehkan untuk melakukan demonstrasi dengan tetap menjaga jarak dan mengenakan masker.
Di bawah panji "Selamatkan Demokrasi", para pengunjuk rasa meminta Benny Gantz untuk tidak bergabung dalam koalisi yang dipimpin oleh seorang perdana menteri yang mereka sebut telah melakukan korupsi.
Berdasarkan laporan dari jurukamera
Reuters, setidaknya ada ribuan pengunjuk rasa yang melakukan aksi di Lapangan Rabin, Tel Aviv. Sementara sebuah media lokal menyebut, jumlah tersebut berkisar 2.000 orang.
Selama ini, Netanyahu yang didakwa pidana atas tiga tuduhan kasus korupsi tengah melakukan negosiasi untuk menciptakan pemerintahan persatuan bersama Gantz.
Itu dilakukan untuk mengakhiri satu tahun kebuntuan politik setelah tiga pemilihan umum yang tidak memberikan hasil.
Gantz yang selama ini mengkampanyekan pemerintahan bersih dikatakan bersedia untuk membentuk pemerintahan dengan Netanyahu agar Israel bisa lebih fokus menangani pandemik Covid-19.
Hingga saat ini, Israel sendiri telah melaporkan lebih dari 13 ribu kasus dengan 172 orang meninggal dunia.
Pemerintah juga telah memberlakukan kuncian parsial dan menerapkan aturan tinggal di rumah. Pemerintah juga sudah menutup bisnis yang membuat 26 persen pekerja menganggur.
BERITA TERKAIT: