Kota baru yang disebut sebagai "lambang peradaban modern" oleh media Korea Utara,
KCNA itu merupakan salah satu proyek konstruksi paling penting di Korea Utara.
Dalam upacara peresmian kota Samjiyon, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara simbolis memotong pita merah di kota tersebut.
Menurut koresponden di situs spesialis
NK News, Colin Zwirko, kepada
BBC, kota tersebut tampak modern, bagus dan bersih.
"Bangunan berdesain unik yang tidak menyerupai kota lain di Korea Utara," katanya kepada
BBC.
Dia menambahkan bahwa kota tersebut tampaknya tidak begitu besar dan dapat dilalui dengan berjalan kaki.
Menurutnya, bangunan-bangunan di kota tersebut sebagian direnovasi, namun banyak juga bangunan yang dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru.
Kim Jong Un sendiri mengunjungi kota Samjiyon dua tahun yang lalu. Saat itu dia untuk pertama kalinya mengumumkan proyek "pembangunan kembali" kota tersebut.
Sementara itu, menurut kabar yang dirilis
KCNA, kota itu diperkirakan dapat menampung hingga 4.000 keluarga. Selain itu, kota tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas lengkap dan memadai, seperti apartemen, lereng ski dan stadion.
Rencananya, di kota tersebut akan dibangun lebih dari 450 bangunan baru, termasuk fasilitas industri dan rekreasi.
KCNA menggambarkan bahwa kota itu telah mengalami perubahan drastis dan menyebutnya sebagai "kota utopia di bawah sosialisme".
Belum jelas berapa anggaran yang dikeluarkan untuk membangun kota modern tersebut serta berapa banyak penduduk yang akan menghuni kota tersebut. Namun yang pasti, proyek pembangunan kota itu menjadi hal yang penting karena berhasil dilakukan Korea Utara di tengah sanksi internasional, terutama Amerika Serikat.
Bukan hanya itu, hal lain yang membuat pembangunan kota itu penting adalah karena letaknya yang dekat dengan Gunung Paektu yang dianggap sebagai gunung suci di Korea Utara dan dikatakan sebagai tempat kelahiran ayah Kim Jong Un, yakni Kim Jong Il.